Profil Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh

Sumber gambar, AFP
Ali Abdullah Saleh terbukti sebagai salah satu pemimpin paling ulet di Dunia Arab dengan menyodorkan diri bak negarawan, bahkan bersikap ramah di tengah perlawanan rakyat.
Dia terlihat berbeda dari sebagian pemimpin lain di Timur Tengah selama gejolak ''kebangkitan Arab''.
Sementara Yaman menjadi ajang pemberangusan berdarah terhadap demonstrasi di ibukota Sanaa dan kota-kota lain, sang Presiden mencoba untuk menjaga jarak dari tindak kekerasan, meski tingkat keberhasilannya menyusut.
Namun, Saleh akhirnya merasakan sendiri imbas pergolakan di negara Arab ini ketika dia terluka dalam serangan 3 Juni terhadap masjid di kompleks istana kepresidenan di Sanaa. Sejumlah pejabat tinggi terluka, sedangkan tujuh pengawalnya tewas.
Keesokan harinya, Saleh diterbangkan dengan pesawat medis milik Arab Saudi ke Riyadh untuk menjalani perawatan atas luka bakar dan luka akibat serpihan roket.
Para pengkritiknya mengatakan selama lebih dari tiga dasawarsa di puncak kekuasaan di yaman, Saleh menggunakan segala cara dan celah untuk tetap berkuasa, dan berjanji untuk keluar dari pentas politik hanya untuk mengulur waktu dalam upayanya untuk memperpanjang kekuasaannya.
''(Dia) selalu memerintah dengan menciptakan kesimpangansiuran, krisis, dan terkadang kekhawatiran di antara orang-orang yang mungkin menantang dia,'' kata spesialis politik Yaman, Sarah Phillips ketika menulis artikel di koran Inggris Guardian.
Saleh memimpin salah satu negara paling sulit di kawasan, negara miskin yang rentan terhadap militansi, di antara negara-negara otoriter yang kaya minyak di kawasan Teluk dan anarki di Somalia.
Negaranya masih belum pulih dari pembagian wilayah seperti yang dialami Korea selama Perang Dingin.
Ali Abdullah Saleh pernah mengibaratkan tugas memerintah Yaman ''menari di atas kepala banyak ular''.
Terluka

Sumber gambar, AFP
Republik Yaman modern sulit dipisahkan dari Saleh, yang terpilih sebagai presiden untuk kali pertama setelah penyatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990.
Lahir di Sanaa dan kemudian mengenyam pendidikan terbatas, dia menapaki jenjang karir di jajaran militer Yaman Utara.
Dia pernah terluka dalam perang saudara tahun 1970 yang melibatkan kubu pendukung Republik dan pendukung kerajaan yang didukung Arab Saudi.
Saleh terlibat dalam kudeta empat tahun kemudian dan mulai berkuasa sebagai pemimpin nasional pada tahun 1978, ketika parlemen menerima pengangkatan dia sebagai presiden.
Dalam masa 12 tahun berikutnya berlangsung upaya unifikasi yang sulit antara Yaman Utara dan Yaman Selatan yang berhaluan Marxist. Proses unifikasi sempat terlihat ambruk pada tahun 1994 ketika perang saudara merebak lagi.
Di fron luar negeri, Presiden Saleh secara umum bisa dikatakan berhasil merangkul Barat dan negara-negara berpengaruh di Dunia Arab.
Perjuangannya untuk mengendalikan Al-Qaida, yang memandang Yaman sebagai basis yang bisa disetarakan dengan Afghanistan pada penghujung 1990-an, membuat dia mendapatkan sahabat di Washington.
Sebelumnya Amerika merisaukan pemimpin yang tetap dekat dengan Presiden Irak Saddam Hussein selama pendudukan Kuwait.
Titik balik

Sumber gambar, AFP
Saleh berusaha terus menghidupkan momok perang saudara dalam upayanya untuk memberikan alasan bagi dirinya untuk tetap berkuasa.
''Mereka (oposisi) ingin menyeret kawasan ini ke perang saudara dan kami menolak untuk diseret ke perang saudara,'' kata dia dalam pidato 22 April, satu hari sebelum kabar beredar bahwa dia telah setuju untuk segera lengser.
''Keamanan, keselamatan, dan stabilitas adalah demi kebaikan Yaman dan kebaikan kawasan,'' ujarnya.
Penembakan 45 orang oleh penembak jitu dalam demonstrasi di Sanaa pada 18 Maret terbukti menjadi titik balik dalam kekuasaan rezim Saleh bagi banyak pihak, meski Saleh membantah aparat keamanannya terlibat dalam insiden itu.
Sederet menteri dan duta besar meninggalkan dia sebagai protes dan massa demonstran membesar di jalan-jalan Yaman pada pekan-pekan berikutnya.
Dengan kemarahan menumpuk di atas kemarahan atas praktik korupsi dan kemskinan yang dia gagal atasi selama berpuluh-puluh tahun, hari-hari ''menari di atas kepala ular'' tampaknya hampir berakhir.
Sebagian analis ragu apakah Ali Abdullah Saleh akan kembali ke Sanaa untuk kembali berkuasa begitu luka-luka yang dia derita sembuh.





























