Politisi sayap kiri menangi pilpres Peru

Ollanta Humala menang tipis atas Keiko Fujimori dalam pemilihan presiden Peru.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Ollanta Humala menang tipis atas Keiko Fujimori dalam pemilihan presiden Peru.

Hasil penghitungan suara pemilihan presiden Peru putaran kedua menunjukkan kandidat sayap kiri Ollanta Humala menang tipis atas politisi sayap kanan Keiko Fujimori.

Perolehan suara Humala hanya berselisih 5% dibanding suara yang diperoleh putri mantan Presiden Albertio Fujimori yang kini dipenjara.

Dalam pemilihan putaran pertama Humala dan Fujimori meraup suara terbanyak dari lima kandidat yang mencalonkan diri.

Namun, karena perolehan suara keduanya tak melebihi 50% dari seluruh pemilih maka pemungutan suara harus memasuki putaran kedua.

Jika Humala dipastikan menjadi pemenang, maka dia akan menggantikan Presiden Alan Garcia yang tidak mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

Sayap kiri tradisional

Ollanta Humala, 48, adalah seorang politisi sayap kiri tradisional yang dibentuk akibat kekecewaannya terhadap negara.

Dia pernah membasmi pemberontakan singkat melawan pemerintahan Alberto Fujimori dan hanya kalah tipis dari Alan Garcia dalam pilpres tahun 2006.

Dalam kampanyenya Humala menjanjikan peran negara yang lebih besar dalam bidang ekonomi dan meningkatkan layanan kesehatan untuk rakyat miskin Peru.

Namun, para lawan politiknya khawatir Humala akan melakukan politik intervensi seperti yang dilakukan Hugo Chavez di Venezuela.

Atas kekhawatiran ini, Humala menegaskan dia tidak akan sekeras Chavez dan akan mengadopsi pendekatan sayap kiri moderat seperti dilakukan di Brasil.

Humala juga menolak tudingan bahwa dia melakukan pelanggaran hak asasi manusia saat membasmi pemberontakan Shining Path tahun 1990-an, ketika masih menjadi kapten angkatan darat.

Bela ayah

Keiko Fujimori dituding akan bebaskan ayahnya dari penjara jika memenangkan pilpres.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Keiko Fujimori dituding akan bebaskan ayahnya dari penjara jika memenangkan pilpres.

Sementara itu, Keiko fujimori, 36, mengandalkan dukungan dari warga Peru yang masih mengagumi sang ayah Alberto fujimori yang berkuasa pada dekade 1990-an.

Alberto Fujimori kini menjalani hukuman penjara 25 tahun atas tuduhan korupsi dan membentuk pasukan pembunuh Peru.

Dalam kampanyenya Keiko mengungkit kembali prestasi sang ayah yang menurutnya berhasil mengendalikan inflasi besar-besaran dan memberantas pemberontakan komunis Shining Path.

Alberto fujimori, kata Keiko, meletakkan dasar bagi meningkatnya perekonomian Peru dewasa ini.

Keiko sangat mendukung kebijakan pasar bebas, tegas memberantas kejahan dan menjanjikan peningkatan program sosial serta pembangunan infrastruktur di kawasan miskin.

Sejumlah pengamat menuding tujuan besar Keiko jika terpilih menjadi presiden adalah memberi pengampunan bagi ayahnya. Keiko membantah tudingan ini.

Jika hasil akhir berbeda dengan hasil perhitungan suara dan Keiko menjadi pemenang, maka dia akan menjadi presiden perempuan pertama Peru.