Ledakan dahsyat guncang Tripoli

Asap tebal mengepul ke angkasa di atas kota Tripoli tidak lama setelah pesawat jet Nato terbang rendah

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Asap tebal mengepul ke angkasa di atas kota Tripoli tidak lama setelah pesawat jet Nato terbang rendah

Beberapa ledakan dahsyat mengguncang ibukota Libia, Tripoli ketika pesawat-pesawat NATO melancarkan serangan udara.

Sebagian ledakan Selasa tampaknya berasal dari serangan udara di dekat kompleks pemimpin Libia Kolonel Muammar Gaddafi.

Ledakan-ledakan yang terjadi mengguncang tanah dan menimbulkan asap yang mengepul ke udara.

Taktik "Serangan NATO" jarang melancarkan serangan siang hari terhadap Tripoli.

Juru bicara pemerintah Libia Moussa Ibrahim mengutuk serangan tersebut.

''Bukannya berbicara dengan kami, mereka membom kami. Mereka sudah gila. Mereka kehilangan akal,'' kata Ibrahim.

Gelombang serangan terjadi ketika tekanan diplomatik terhadap Gaddafi untuk lengser semakin gencar.

Pimpinan Panel Uni Afrika untuk Libia, Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz, mengatakan mundurnya Gaddafi kini menjadi syarat perlu untuk menyudahi konflik di negara Afrika Utara tersebut.

Diplomat senior

Mikhail Margelov (kiri) diutus pemerintah Rusia temui pemberontak Libia

Sumber gambar, RIA Novosti

Keterangan gambar, Mikhail Margelov (kiri) diutus pemerintah Rusia temui pemberontak Libia

Sementara itu, Rusia dan Cina untuk kali pertama mengirimkan diplomat senior ke kota Benghazi yang dikuasai pemberontak dalam upaya untuk menjadi penengah dalam penyelesaian konflik yang telah berjalan empat bulan.

"Kami datang ke Benghazi untuk memfasilitasi dialog antara kedua kubu," kata utusan Rusia untuk Afrika, Mikhail Margelov.

Presiden Rusia Dmitri Medvedev baru-baru ini menyatakan pemimpin Liba telah kehilangan legitimasi dan semestinya lengser. Pernyataan Medvedev ini senada dengan pandangan pemimpin sebagian besar negara Barat.

Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Libia Abdul-Ati al-Obeidi terbang ke Beijing untuk berunding. Kunjungan pejabat tinggi Libia itu digambarkan kalangan analis politik sebagai upaya untuk meraih kembali dukungan diplomatik di pentas internasional.

Pasukan NATO mulai melancarkan serangan udara terhadap Libia bulan Maret, setelah Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi yang mendukung penggunakan kekuatan militer untuk melindungi warga sipil di Libia.