Mei bulan paling mematikan di Afganistan

Kelompok perlawanan dikatakan menimbulkan sebagian besar kematian warga sipil

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kelompok perlawanan dikatakan menimbulkan sebagian besar kematian warga sipil

PBB mengatakan bulan Mei tahun ini sebagai bulan yang paling parah bagi warga sipil di Afganistan sejak tahun 2007, ketika perusahaan itu mulai mencatat jumlah korban sipil.

PBB mengatakan "elemen-elemen antipemerintah" bertanggung jawab atas 82% dari 368 "kematian warga sipil terkait konflik".

"Pasukan propemerintah," termasuk NATO, menyebabkan 45 kematian itu.

Berita itu dikeluarkan oleh Misi Bantuan PBB di Afganistan (UNAMA) pada saat sejumlah serangan mematikan menyebabkan 18 orang tewas, sebagian besar warga sipil, di kawasan tenggara negara itu.

Lima belas orang, termasuk delapan anak dan empat wanita, tewas ketika sebuah ledakan bom mengenai kendaraan mereka di provinsi Kandahar, demikian pernyataan Kementrian Dalam Negeri.

Di provinsi Khost di kawaan timur, seorang pelaku bunuh diri menyerang sebuah kantor polisi, menewaskan dua anggota polisi dan seorang warga sipil. Dua belas luka-luka dalam serangan itu.

Kekhawatiran

"Lebih banyak warga sipil meninggal di bulan Mei dibandingkan bulan-bulan lainnya sejak tahun 2007 ketika UNAMA mulai mencatat jumlah korban sipil," kata Georgette Gagnon, Direktur urusan HAM UNAMA.

"Kami sangat khawatir penderitaan warga sipil akan meningkat lebih besar lagi dalam pertempuran musim panas yang biasanya membawa angka tertinggi dalam hal kematian warga sipil," katanya.

"Pihak-pihak yang terlibat konflik harus meningkatkan upaya untuk melindungi warga sipil sekarang."

Statistik terbaru menunjukkan bahwa kelompok perlawanan bertanggung jawab atas sebagian besar kematian warga sipil, tetapi serangan udara NATO juga menyebabkan 3% kematian.

Penggunaan serangan udara oleh NATO untuk menumpas para pemerontak Taliban membuat marah Presiden Hamid Karzai, yang menuntut agar serangan udara dihentikan.

Tetapi para komandan NATO menganggap serangan udara sebagai senjata yang berguna terhadap musuh yang sering menghindari perang secara terbuka.