Singapura desak Cina soal klaim wilayah

Kapal patroli Cina Haixun 31 berlabuh di Singapura setelah melewati Laut Cina Selatan

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kapal patroli Cina Haixun 31 berlabuh di Singapura setelah melewati Laut Cina Selatan

Singapura menyerukan kepada Cina agar menjelaskan klaimnya atas Laut Cina Selatan menyusul konfrontasi baru-baru ini antara Cina dengan Vietnam dan Filipina.

Singapura mengatakan sikap "mendua" Cina menimbulkan kekhawatiran internasional.

Sejumlah negara Asia mengklaim sebagian perairan yang penting secara strategis itu, yang mungkin juga mengandung cadangan minyak dan gas.

Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Brunei dan Malaysia saling mengklaim Kepulauan Spratly sementara Beijing dan Hanoi bersengketa mengenai Kepulauan Paracel.

Dalam satu pernyataan, Kementrian Luar Negeri Singapura mengatakan, "Kami.... merasa ini merupakan kepentingan Cina untuk menjelaskan klaimnya terhadap Laut Cina Selatan dengan lebih jelas karena sikap mendua selama ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan maritim internasional."

Singapura tidak memiliki klaim teritorial di perairan itu, tetapi mengatakan pihaknya memiliki kepentingan "dalam semua hal yang berdampak pada kebebasan bergerak di jalur laut internasional".

Sikap Singapura ini juga sejalan dengan sikap negara-negara lain di kawasan dan Amerika.

Singapura merupakan sebuah negara perdagangan besar dan juga memiliki pangkalan angkatan laut Amerika.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah salah satu kapal pengintai angkatau laut Cina yang terbesar, Haixun 31, berlabuh di negara kota itu setelah melewati Laut Cina Selatan.

Kementrian Luar Negeri Singapura mengatakan ada tanda tanya yang semakin besar mengenai kapal itu.