WTO: Larangan ekspor baja Cina ilegal

Cina adalah pemasok utama mineral langka di pasar ekspor

Sumber gambar, REUTERS

Keterangan gambar, Cina adalah pemasok utama aneka mineral langka di pasar ekspor

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan Cina melanggar ketentuan internasional dengan membatasi ekspor logam tertentu.

Sengketa, yang bermula pada tahun 2009, diadukan ke WTO setelah Cina menerapkan kuota.

Menurut Cina, kuota tersebut untuk menghemat sumber magnesium dan logam ekspor lain.

Amerika Serikat mengatakan kebijakan Cina itu menyebabkan produsen manufaktur di luar Cina mengalami kekurangan logam-logam yang diperlukan.

Dalam sengketa ini, Amerika Serikat mendapat dukungan dari Uni Eropa dan Meksiko.

AS mengatakan kepada WTO bahwa pembatasan ekspor sembilan mineral, yang mencakup seng dan mangan, merupakan diskriminasi terhadap produsen asing dan memberikan keuntungan yang tidak adil terhadap produsen domestik yang menggunakan mereka.

Semua logam tadi merupakan bahan untuk pembuatan produk di sektor industri baja, alumunium, dan kimia.

Pernyataan WTO mengatakan, ''Panel menyimpulkan bea ekspor (yang diberlakukan Cina) tidak konsisten dengan komitmen yang disepakati Cina dalam protokol penggabungan (ketika bergabung ke WTO pada tahun 2001).''

Harga lebih tingi

WTO
Keterangan gambar, WTO menangani beberapa sengketa dagang yang melibatkan AS dan Cina

Uni Eropa mengatakan harga ekspor untuk beberapa bahan mentah mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan harga di dalam Cina akibat keterbatasan persediaan.

Komisioner Perdagangan Uni Eropa Karel De Gucht mengatakan, "Ini putusan yang jelas mengenai perdagangan terbuka dan akses yang adil ke bahan-bahan mentah.''

''Kesimpulan WTO itu mengirimkan pesan yang tegas untuk menghindari pemberlakuan pembatasan yang tidak adil terhadap perdagangan dan membawa kita satu langkah yang lebih dekat ke posisi yang adil untuk (memperoleh) bahan mentah,'' tambah De Gucht.

Cina kaya akan beberapa bahan mentah tertentu, khususnya bahan tambang yang digolongkan sebagai mineral langka.

Negara Asia tersebut memproduksi 97% mineral-mineral langka yang diperlukan untuk memproduksi banyak barang elektronik, termasuk TV dan monitor komputer, namun pemerintah di sana membatasi ekspor mineral tersebut dengan alasan ingin menghemat persediaannya.

De Gucht mengatakan Cina kini diharapkan ''mengubah ketentuan ekspornya agar sejalan dengan ketentuan internasional. Lebih dari itu, mengingat putusan ini, Cina harus memastikan akses bebas dan adil ke pasokan mineral langka.''