Umar Patek tiba di Indonesia

Sumber gambar, AP
Umar Patek yang disebut-sebut sebagai pembuat bom Bali 2002 telah dideportasi dari Pakistan.
Lelaki kelahiran tahun 1970 yang menjadi buronan internasional seharga US$1 juta tersebut dibawa ke Indonesia dengan pengamanan yang ketat, dan dilaporkan telah berada di rumah tahanan Brimob, Kelapa Dua.
Intelejen mempercayai dia merupakan aset penting untuk mengungkap jaringan terorisme al-Qaida dan afiliasinya di Asia Tenggara.
Peran yang penting inilah yang membuat pemerintah Indonesia bersikeras untuk membawa kembali Umar Patek ke Jakarta setelah ditangkap di Abbottabad pada tanggal 25 Januari silam atau empat bulan sebelum Osama bin Laden tewas dalam operasi pasukan AS di kota yang sama.
Setelah melalui proses negosiasi yang panjang dengan sejumlah negara yang juga berkepentingan dengan Umar Patek, akhirnya dia berhasil dibawa ke Indonesia dengan pesawat khusus yang dikirim ke pangkalan angkatan udara Pakistan di luar kota Islamabad pada Rabu malam waktu setempat.
Pesawat yang membawa Patek mendarat di Indonesia Kamis (11/08) pagi dan langsung dibawa ke Kelapa Dua.
Tidak berlaku surut
Seorang petugas anti teror Indonesia menyebut Patek telah mengaku memegang peran penting dalam peristiwa bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang .
Dia disebutkan berperan sebagai peracik dan perangkai bom, serta memantau kondisi lapangan, menggambar denah lokasi, dan mencocokkan waktu dan tempat.
Setelah bom Bali I, Umar Patek dikabarkan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari penangkapan dirinya.
Kini dia ditahan di Kelapa Dua untuk menunggu proses persidangan.
Meski akan disidangkan dalam kasus pemboman, tetapi sepertinya persidangan itu sendiri akan menjadi masalah karena dia tidak bisa diadili dengan menggunakan Undang-Undang Anti Terorisme.
UU Anti Terorisme disahkan pasca peristiwa bom Bali dan tidak berlaku surut.
Umar Patek alias Abu Syeikh alias Umar Arab merupakan alumnus Afganistan sekitar 1990-an.
Dia disebut-sebut pernah bergabung bersama Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Mindanao pada tahun 1995.
Umar dikatakan juga menjadi instruktur di kamp militer Jemaah Islamiyah di Hudaibiyah, Filipina.
Saat ditangkap di Abbottabad muncul dugaan dia berada di sana untuk menemui bin Laden, tetapi AS menyatakan penangkapannya itu merupakan sebuah kebetulan.





























