Jepang kembali bukukan surplus dagang

Sumber gambar, AFP
Jepang berhasil bukukan kenaikan surplus perdagangan bulan Juli, lebih tinggi dari perkiraan awal sehingga mendongkrak optimisme bahwa perekonomian negara itu makin mantap menuju pemulihan.
Surplus perdagangan dilaporkan mencapai US$946 juta atau lebih dari Rp8 triliun pada bulan Juli lalu.
Meski demikian Jepang juga masih mengalami penurunan ekspor yang lebih rendah dari ekspektasi semula, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap adanya penurunan permintaan di sejumlah pasar kunci barang-barang produk Jepang.
Ekspor turun terus selama lima bulan berturut-turut dan pada Juli lalu turun 3,3% dari bulan yang sama tahun lalu.
Menurut ramalan pengamat sebelumnya, ekspor memang akan turun tetapi lebih mendekati angka 2,4% dan situasi terakhir ini dinilai mengindikasikan bahwa menguatnya mata uang yen masih terus merugikan sektor industri manufaktur Jepang.
Naomi Fink, ahli strategi ekonomi Jepang di lembaga keuangan Jeffries di Tokyo, mengatakan meski angka ekspor tidak sebagus prediksi namun masih ada tanda-tanda pemulihan ekonomi.
Fink menjelaskan bahwa sejumlah perusahaan besar Jepang sudah menunjukkan tren perbaikan kinerja, meski keuntungan dan pertumbuhan tidak sekuat pada tahun-tahun booming 2000.
"Masih ada beberapa bulan menuju pemulihan," kata Fink.
Dua sisi
Sementara nilai mata uang yen yang menguat membuat para produsen barang ekspor di Jepang pening kepala, nilai yen yang tinggi juga dianggap membantu memotong biaya impor.
Dalam data bulan Juli dari Kementerian Keuangan setempat nampak impor naik lebih rendah dari perkiraan awal 9,9% dibanding tahun sebelumnya.
"Di sisi impor kita lihat ada beberapa faktor yang menentukan," kata ahi strategi Jeffries, Naomi Fink.
Sejak tsunami dan gempa bumi lalu, Jepang mengurangi produksi nuklirnya dan kini lebih banyak menggunakan bahan bakar minyak dan gas alam, yang dibeli dengan harga dollar AS di pasar internasional.
Pada saat yang sama, pemerintah juga menyerukan agar konsumen dan pabrik mengurangi konsumsi listriknya.
"Munculnya kebutuhan lebih besar terhadap BBM dari fosil akibat naiknya konsumsi energi. Tapi di sisi lain terjadi pula upaya penghematan, sehingga bukan cuma situasi satu arah", lanjut Fink.
"Nilai yen yang menguat yang merugikan sisi ekspor juga membantu menjaga harga barang impor tetap terkendali," pungkasnya.





























