Hong Kong buka pasar emas bernilai yuan

Sumber gambar, na
Hong Kong menjadi pasar pertama di dunia yang mewarkan komoditas emas dengan nilai tukar yuan, mata uang Cina.
Langkah ini menjadikan Hong Kong sebagai penghubung luar wilayah Cina untuk mengkampanyekan penggunaan mata uangnya.
Masyarakat Pertukaran Emas dan Perak Cina (CGSE) menyatakan akan menawarkan layanan kontrak emas antar negara dengan mata uang Renminbi kepada para investor.
Langkah ini diambil ditengah tingginya ambisi Cina untuk mengokohkan posisi mata uangnya di pasar internasional.
Hong Kong saat ini merupakan pusat perdagangan emas terbesar ketiga dunia.
"Dengan menarik baik investor lokal maupun internasional, Emas Kilobar Renminbi merupakan langkah penting untuk menginternasionalkan mata uang renminbi," kata Haywood Cheung, Presiden CGSE.
Tumbuhnya permintaan
Tingginya pertumbuhan ekonomi Cina ditambah dengan tekanan dari pemerintah negara itu agar mata uang mereka makin diakui dunia membuat permintaan terhadap produk investasi yang ditawarkan dalam mata uang yuan meningkat.
Pada saat yang sama, Hong Kong sedang mencoba memposisikan diri sebagai pusat penghubung perdagangan dunia dengan mata uang yuan.
Permintaan tumbuh pesat dengan makin naiknya jumlah deposito asing dalam bentuk mata uang Cina di kota itu, yang naik 6,4% bulan Agustus lalu menjadi 609 miliar yuan (sekitar Rp840 triliun).
Wakil Perdana Menteri Cina Li Keqiang telah mengumumkan rencana untuk mengizinkan perusahaan asing yang dianggap memenuhi syarat untuk membeli saham dan surat utang hingga senilai 20 miliar yuan dari pasar modal Hong Kong.
Sementara awal tahun ini Bursa Hong Kong menjadi bursa pertama di luar Cina yang mendaftarkan saham dengan nilai yuan setelah Hui Xian, sebuah perusahaan investasi perumahan yang dimiliki konglomerat Hong Kong, Li Ka-shing, memilih menjual sahamnya dengan nilai mata uang Cina tersebut.
Naiknya pamor yuan tidak terlepas dari upaya keras Cina untuk meningkatkan pengaruhnya di pasar internasional, baik secara politik maupun ekonomi. Sejumlah negara barat terutama AS, menuding Cina melakukan pelemahan mata uangnya secara sengaja, untuk meningkatkan daya saing produknya terhadap barang buatan negara lain.





























