Keluarga korban penembakan tentara AS dapat kompensasi

Sumber gambar, Pentagon
Keluarga Afghanistan yang jadi korban penembakan membabi-buta yang dilakukan seorang tentara AS di Kandahar diberi kompensasi uang, demikian konfirmasi yang diterima BBC.
Mereka menerima uang senilai $46.000 (atau sekitar Rp420 juta) untuk tiap korban yang terbunuh, serta $10.000 (Rp91,5 juta ) untuk tiap korban yang luka, kata sejumlah pejabat dan pemimpin suku Afghanistan yang dihubungi BBC.
Sersan AS Robert Bales didakwa pada Jumat (23/3) dengan 17 kasus pembunuhan.
Serangan di provinsi Kandahar pada tanggal11 Maret itu telah mengakibatkan makin buruknya hubungan Kabul dan Washington.
Belum jelas siapa yang memberi kompensasi uang ini kepada keluarga para korban, yang tinggal di distrik Panjwai.
Anggota keluarga para korban hadir dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah awak dari militer AS dan perwakilan tentara NATO di kantor gubernur Kandahar.
Keluarga-keluarga ini diberitahu bahwa sebagian saksi akan diterbangkan ke AS untuk memberikan kesaksian -sementara keluarga korban lainnya akan ikut didengar kesaksiannya melalui saluran video jarak jauh- saat Sersan Bales disidangkan.
'Tak mengaku'
Angkatan Bersenjata AS Jumat lalu mengatakan Sersan Bales telah secara resmi didakwa dengan 17 dakwaan pembunuhan berencana terhadap sembilan anak dan delapan warga dewasa Afghanistan.
Menurut sejumlah pejabat resmi negara itu ada 16 korban tewas -12 di wilayah Balandi dan empat di Alkozai- namun militer AS belum menjelaskan kenapa ada ketimbangan jumlah korban dibanding dakwaannya.
Sersan Bales, 38, juga didakwa melakukan enam percobaan pembunuhan dengan menyerang seorang pria, wanita dan empat anak-anak.
Saat ini tersangka ditahan di penjara militer Fort Leavenworth, Kansas, dimana dia dikurung di sel isolasi setelah dibawa dari Afghanistan pekan lalu.
Kuasa hukumnya, yang membantah Bales tengah mabuk saat melakukan pembunuhan itu, mengatakan Bales hanya ingat "sedikit sekali" insiden yang terjadi.
Sang pengacara, John Henry Browne, mengatakan tak ada "bukti forensik" yang membuktikan kesalahannya sementara Bales juga "tak mengaku" melakukan kekejaman itu.
Bales adalah tersangka tunggal dalam kasus ini meskipun pihak Afghanistan beberapa kali menuding ada lebih dari seorang warga AS yang terlibat dalam kasus tersebut.
Sidang pengadilan kasus ini bisa berjalan bertahun-tahun, berlawanan dengan tuntutan warga Afghanistan yang menginginkan keadilan ditegakkan sesegera dan setegas mungkin.
Sementara itu, bila dakwaan dikabulkan maka Bales bisa menghadapi hukuman mati.





























