Serangan AS ke Venezuela Bakal Berimbas pada Harga Minyak Mentah Dunia
4 Januari 2026 6:22 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Serangan AS ke Venezuela Bakal Berimbas pada Harga Minyak Mentah Dunia
Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar, mencapai 303 miliar barel, seperlima dari total cadangan minyak mentah global.kumparanBISNIS


Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang diikuti penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, diperkirakan berimbas pada harga minyak mentah dunia. Apalagi, Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar.
Data BP Statistical Review of World Energy Report menunjukkan, Venezuela menyimpan 303 miliar barel minyak mentah. Jumlah ini, seperlima dari total cadangan minyak mentah secara global.
Harga minyak mentah ditutup melemah sebelum adanya serangan AS ke Venezuela, Jumat (2/1). Harga minyak mentah Brent ditutup turun 10 sen menjadi USD 60,75 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 10 sen menjadi USD 57,32 per barel.
Berdasarkan sumber dari Petrรณleos de Venezuela, S.A. (PDVSA), produksi dan penyulingan minyak milik Venezuela beroperasi normal pada hari Sabtu (3/1) dan tidak mengalami kerusakan.
Pelabuhan La Guaira di dekat Caracas yang menjadi target serangan AS memang mengalami kerusakan parah namun pelabuhan tersebut tak digunakan untuk ekspor minyak.
Sebelum serangan, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Maduro pada hari Rabu (31/12) dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan kapal tanker minyak terkait yang menurut mereka beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Hal itu menurunkan ekspor minyak Venezuela pada bulan lalu menjadi sekitar setengah dari 950.000 barel per hari (bpd) yang dikirim pada bulan November.
Langkah AS tersebut juga mendorong banyak pemilik kapal mengalihkan pelayaran menjauhi perairan Venezuela. Kondisi ini dengan cepat membuat persediaan minyak mentah dan bahan bakar milik perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA melonjak. Akibatnya, PDVSA terpaksa memperlambat pengiriman di sejumlah pelabuhan serta menyimpan minyak di atas kapal tanker untuk menghindari pemangkasan produksi minyak mentah maupun aktivitas pengilangan.
Di sisi lain, sistem administrasi PDVSA juga belum sepenuhnya pulih dari serangan siber pada Desember lalu. Serangan tersebut memaksa perusahaan mengisolasi terminal, ladang minyak, dan kilang dari sistem pusat, sehingga operasional sempat dijalankan menggunakan pencatatan manual.
