3 Cara Deteksi Hoaks Demo Pakai AI Supaya Tidak Mudah Terprovokasi
2 September 2025 9:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
3 Cara Deteksi Hoaks Demo Pakai AI Supaya Tidak Mudah Terprovokasi
Peredaran konten hoaks semakin masif beredar dengan adanya teknologi AI, terutama konten-konten deepfake. Guna mewaspadai penyebaran berita hoaks, berikut 3 cara deteksi kebenaran informasi.kumparanNEWS


Gelombang demonstrasi merebak di berbagai daerah dan berujung ricuh. Demonstrasi ini dipicu oleh berbagai hal, salah satunya tewasnya Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online, yang terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis (28/08). Kondisi yang tidak kondusif ini makin diperparah dengan masifnya peredaran konten hoaks.
Peredaran konten hoaks semakin masif beredar dengan adanya teknologi kecerdasan artifisial (AI), terutama konten-konten deepfake. Menurut Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO), Septiaji Eko Nugroho, deepfake yang tersebar memiliki pengaruh yang besar terhadap gerakan kemarahan demonstrasi masyarakat yang tengah terjadi.
โApinya sudah ada, tapi karena ditambahin, diguyur dengan bensin berupa hoaks itu ya, jadi terbakarnya jadi lebih luas. Ya, contohnya ini kan, video-video pembakaran di sebuah tempat. Itu juga bisa โmempromosikanโ orang untuk kemudian, โoh ini sudah kebakaran di mana-mana gitu ya. Jadi mereka kayak semacam, ayo dong kita melakukan sesuatu, ayo kita bikin rusuh di tempat kita juga,โ ucap Setiaji kepada kumparan, Senin (1/9).
Guna mewaspadai penyebaran berita hoaks, berikut 3 cara deteksi kebenaran informasi.
1. Cari Kebenaran Informasi Lewat Google Fact Check Tools
Melalui Google Fact Check Explorer Anda dapat menemukan artikel cek fakta yang sudah terverifikasi oleh Google dengan sistem penandaan ClaimReview. Fitur ini memungkinkan Anda untuk langsung memasukan klaim atau URL tertentu guna mencari dan melihat hasil pemeriksaan fakta yang sudah diperiksa, diverifikasi, dan dicarikan sumber awal oleh berbagai penerbit dan organisasi pemeriksa fakta independen di seluruh dunia.
Melalui Google Fact Check Tools kami mencari informasi mengenai gedung DPR yang terbakar. Klaim gedung DPR terbakar kami telusuri dengan mengetiknya di search bar yang tersedia. Setelah klik kaca pembesar muncul salah satu artikel dari media arus utama yang menyebut konten tersebut sesat. Artinya klaim yang beredar menyesatkan masyarakat.
2. Minta Bantuan AI Perplexity
Perplexity AI adalah salah satu alat berbasis GenAI yang mampu merangkum cepat dari banyak sumber yang terpercaya. Alat ini mampu memeriksa pernyataan/URL, mencari sumber awal, dan memberikan informasi terkini. Untuk memverifikasi jawaban dari AI, Perplexity selalu menyertakan sumber yang bisa diakses secara langsung.
Dengan Perplexity kami mencari informasi kebenaran soal rumor Sri Mulyani akan mundur dari jabatan menteri keuangan, informasi ini beredar di sosial media setelah kasus penjarahan rumahnya. Akhirnya kami bertanya pada Perplexity dan dijawab dengan rangkuman dari beberapa media arus utama Indonesia, hasil jawaban tersebut turut disertai sumber yang bisa langsung diklik.
3. Kenali Konten Deepfake dengan Facia.AI
Saat ini marak konten Deepfake. Konten Deepfake dapat diidentifikasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) khususnya melalui metode deep learning dan pengenalan wajah seperti yang diterapkan oleh Facia AI. Teknologi ini menganalisis berbagai aspek wajah dalam video atau gambar, seperti perubahan kecil pada fitur wajah, pencahayaan yang tidak sesuai, pola gerakan yang tidak alami, dan ketidaksesuaian biometrik yang sulit ditiru oleh deepfake.
Lewat Facia.AI kami mendeteksi video yang beredar di TikTok soal Uya Kuya berjoget disertai teks menantang para pendemo. Hasil analisis dari Facia.AI adalah konten terdeteksi deepfake.
Selain lewat tools, kami pernah mewawancarai Pakar Teknologi Informasi (IT), Abimanyu Wachjoewidajat, pada 12 Februari lalu. Kata dia, ada beberapa cara untuk mengenali sebuah konten deepfake atau bukan. Mulai dari memastikan proporsi wajah atau badan orang dalam video tersebut wajar atau tidak, dan jika manusia berbicara, akan ada gerakan natural antara mata, mulut, dan pipi. Tetapi, jika video tersebut merupakan deepfake, kata Abimanyu, pergerakan natural itu akan sulit terlihat.
โDeepfake itu sejauh ini baru hanya bisa memasukkan seakan-akan matanya berkedip-kedip saja dan kemudian mulutnya mulai bicara. Padahal untuk bicara, mulut dengan mata dan mimik wajah itu yang normalnya itu kelihatan mimiknya biasanya akan banyak berbeda. Nah deepfake itu hanya menggerakkan mulutnya saja tetapi pipi itu belum kelihatan bisa mampu bergerak. Kalau diperhatikan itu sebetulnya tidak kelihatan natural,โ jelas Abimanyu.
-------
PESAN REDAKSI:
Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.
