Kisah Neo-Nazi dan Tulisan di Senjata Mainan Pelaku Peledakan di SMAN 72

7 November 2025 19:46 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Neo-Nazi dan Tulisan di Senjata Mainan Pelaku Peledakan di SMAN 72
Sejumlah tulisan menarik terlihat di senjata mainan yang dibawa diduga pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta Utara, Jumat (7/11). Selain semboyan, ada juga nama-nama yang selama ini dikaitkan Neo-Nazi.
kumparanNEWS
Senapan yang ditemukan usai ledakan di masjid di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (7/11/2025). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Senapan yang ditemukan usai ledakan di masjid di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (7/11/2025). Foto: Dok. Istimewa
Sejumlah tulisan menarik terlihat di senjata mainan yang dibawa diduga pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta Utara, Jumat (7/11). Selain semboyan, ada juga nama-nama yang selama ini dikaitkan dengan Neo-Nazi.
Salah satunya adalah tulisan '14 Words'.
Berikut bunyi Slogan 14 Words:
β€œKita harus mengamankan keberadaan orang-orang kita dan masa depan untuk anak-anak kulit putih.”
Frasa ini diciptakan oleh David Lane – seorang teroris Amerika, rasis, dan anggota kelompok The Order yang terlibat dalam pembunuhan, perampokan, dan pengeboman selama tahun 1980-an. Lane menjalani hukuman seumur hidup dan meninggal di penjara.
Selain itu di senjata mainan tersebut juga terdapat sejumlah nama yang dikenal sebagai penganut Neo Nazi. Dari mulai Brenton Tarrant, Alexander Bissonnette, hingga Luca Traini.
Nama pertama yakni Brenton Tarrant adalah pelaku penembakan Masjid Christchurch (Selandia Baru) tahun 2019.
Brenton Tarrant, pelaku penembakan di masjid Christchurch, menjalani persidangan di Pengadilan Tinggi di Christchurch, Selandia Baru. Foto: John Kirk-Anderson / Pool via REUTERS
Ia adalah supremasi kulit putih, anti-imigran, dan teroris sayap kanan yang menyiarkan serangannya secara live-stream. Tarrant adalah ikon bagi gerakan neo-Nazi dan ekstremis sayap kanan global.
Tarrant ditangkap setelah kendaraannya ditabrak mobil polisi saat ia sedang berkendara menuju masjid ketiga di Ashburton. Bahkan Tarrant menyiarkan langsung penembakan pertama di Facebook, menandai serangan teror sayap kanan pertama yang berhasil disiarkan langsung.
Pada 26 Maret 2020, ia mengaku bersalah atas 51 pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan terlibat dalam aksi teroris, Hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, pertama diterapkan di Selandia Baru.
Sementara itu nama berikutnya Alexandre Bissonnette adalah pemuda berusia 27 tahun yang membunuh enam orang dan melukai 19 lainnya di sebuah masjid di kota Quebec, Kanada, pada 2017 lalu.
Alexandre Bissonnette, seorang tersangka dalam penembakan di masjid Quebec City, tiba di gedung pengadilan di Quebec City, Quebec, Kanada. Foto: REUTERS/Mathieu Belanger
Ia dikenal sebagai sosok yang mendukung kelompok ekstremis kanan dan nasionalistik. Terinspirasi oleh tokoh nasionalis Perancis, Marine Le Pen.
Bissonnete juga dikenal mendukung gerakan supremasi kulit putih, "GΓ©nΓ©ration Nationale," yang antara lain menolak "multikulturalisme."
Kisah sadis lain terkuak dari sosok Luca Traini. Ia menembaki warga kulit hitam yang berkumpul di pinggir jalan kota Macerata, Italia, pada 2018.
Lima pria dan seorang wanita terluka dan harus menjalani operasi di rumah sakit. Mereka adalah warga dari Nigeria, Ghana, Gambia, dan Mali.
Adolf Hitler. Foto: Getty Images/Hulton Archive
Polisi menetapkan kasus ini sebagai "kebencian berdasarkan ras". Dalam penggeledahan di rumahnya pada Minggu (4/2), polisi menemukan banyak barang-barang berbau Nazi dan Hitler.
Polisi menyita buku manifesto Hitler "Mein Kampf", selebaran kelompok neo-Nazi, dan bendera salib Celtic, simbol supremasi kulit putih. Traini juga diketahui pernah maju jadi kandidat anggota dewan dalam pemilu lokal untuk partai sayap kanan anti-imigran, Liga Utara, tahun lalu, tapi kalah.
Tentang Supremasi Kulit Putih dan Neo-Nazi
Supremasi kulit putih adalah sebuah -isme yang teramat dibenci dunia. Itu karena, paham tersebut percaya bahwa hanya bangsa kulit putih yang paling superior di antara bangsa-bangsa lain. Bagi mereka, Tuhan telah menakdirkan kulit putih sebagai penguasa dunia.
Paham tersebut mengemuka sebagai sebuah gerakan di AS antara September 1983 dan Desember 1984. The Order atau yang juga dikenal sebagai Silent Brotherhood merupakan wujud organisasi dari gerakan tersebut.
The Order didirikan Robert Jay Mathews pada akhir September 1983 di sebuah ladang pertanian di Washington. Mathews bercita-cita melawan pemerintah AS yang saat itu dikendalikan oleh orang-orang Yahudi.
Ya, musuh The Order memang kaum Yahudi. Mereka begitu benci dengan keberhasilan kaum Yahudi di segala bidang. Entah itu di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Rasa benci itu sedemikian membuncah, persis dengan yang dirasakan Hitler dengan gerakan nazisme mereka di Jerman sekitar tahun 1933-1945.
Barbara Penny dalam buku berjudul Hate and Bias Crime: A Reader (2003) mengemukakan bahwa The Order memiliki ikatan emosional dengan gerakan antisemitisme nazi. Hal itu tampak dalam sumpah yang diikrarkan oleh orang-orang yang hendak menjadi anggota gerakan organisasi tersebut.
Bendera Nazi dan senjata yang disita polisi dari kelompok kanan ekstrem yang yang berencana membuat partai Nazi baru, di lokasi tak dikenal di Italia. Foto: REUTERS
Meski The Order telah bubar, ide tentang keagungan ras kulit putih tidaklah benar-benar hilang 100 persen. Lain dari itu, ide tersebut masih diamini oleh sejumlah kalangan di AS. Setali tiga uang, gagasan tentang supremasi kulit putih di abad ke-21 pun dianggap sebagai neo-nazi.
Berdasarkan data dari Anti-Defamation League (ADL) pada 2018, terungkap bahwa upaya propaganda supremasi kulit putih di AS naik 182 persen pada tahun 2018 jika dibanding tahun 2017. Riset itu mencatat, ada 1.187 peristiwa pembunuhan yang terkait dengan supremasi kulit putih pada 2018. Naik drastis dari tahun sebelumnya yang berjumlah 421 insiden.
Sosiolog dari Universitas Dayton, Art Jipson dan Paul J Backer, rupanya berpendapat lain. Keduanya menilai, munculnya supremasi kulit putih erat kaitannya dengan kekhawatiran terhadap eksistensi imigran. Mereka khawatir ras kulit putih akan musnah seiring datangnya imigran dan perubahan demografis yang terjadi di AS.
Trending Now