Pidato di PBB, Prabowo Singgung Penderitaan RI saat Dijajah

23 September 2025 23:39 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pidato di PBB, Prabowo Singgung Penderitaan RI saat Dijajah
Presiden Prabowo Subianto menyinggung pengalaman pahit rakyat Indonesia saat hidup di bawah penjajahan.
kumparanNEWS
Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP
Presiden Prabowo Subianto menyinggung pengalaman pahit rakyat Indonesia saat hidup di bawah penjajahan. Ia bercerita bagaimana Bangsa Indonesia mengalami penindasan yang begitu berat saat dijajah.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di Markas PBB, New York, Selasa (23/9).
"Selama berabad-abad, Rakyat Indonesia hidup di bawah dominasi kolonial, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih rendah dari anjing di tanah air kami sendiri," ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan penderitaan itu membuat Rakyat Indonesia tahu betul bagaimana rasanya ditolak keadilan, hidup dalam kemiskinan, serta tidak memiliki kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, dari pengalaman itulah Indonesia mampu memahami arti solidaritas dalam perjuangan kemerdekaan.
"Kami, Rakyat Indonesia, tahu apa artinya ditolak keadilan dan apa artinya hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan ditolak kesempatan yang sama. Kami juga tahu apa yang dapat dilakukan solidaritas dalam perjuangan kemerdekaan kami, dalam perjuangan kami mengatasi kelaparan, penyakit, dan kemiskinan," ucap dia.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan bahwa meskipun dunia kini berada di era ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, tantangan besar tetap mengintai. Menurutnya, rasa takut, rasisme, kebencian, penindasan, dan apartheid masih menjadi ancaman serius bagi masa depan umat manusia.
"Deklarasi ini membuka jalan menuju kemakmuran dan martabat global yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun, di era kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi kita sendiri, sebuah era yang mampu mengakhiri kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Kita juga masih menghadapi tantangan dan ketidakpastian yang berat dan berbahaya saat ini," tandas dia.
Trending Now