Protes Iran telan korban jiwa

Sumber-sumber di kalangan oposisi Iran menyatakan sedikitnya delapan demonstran tewas dalam bentrokan sengit antara massa anti-pemerintah dan polisi.
Keponakan mantan calon presiden Mir Hossein Mousavi termasuk empat korban tewas di ibukota Teheran, dan laporan-laporan menyebutkan empat orang juga tewas di kota Tabriz.
Aparat keamanan dilaporkan melepaskan tembakan di Tehran setelah kehilangan kendali atas situasi.
Bentrokan yang dilaporkan berlangsung sementara kubu oposisi menyeru warga agar turun ke jalan-jalan saat peringatan hari warga muslim Syiah, Ashura mencapai puncak.
Massa memekikkan slogan "Khameneni akan tumbang", kata sumber-sumber oposisi.
Khameni yang mereka maksudkan adalah Ayatullah Ali Khameneni, Pemimpin Tertinggi Iran.
Demonstransi berlangsung sporadis beberapa hari ini di beberapa kota di seluruh Iran.
Ratusan polisi dan aparat keamanan dilaporkan digelar di Teheran menjelang unjuk rasa hari Minggu.
Ribuan pengunjukrasa dilaporkan ikut dalam protes, meski ada peringatan resmi yang melarang demonstrasi.
Laporan-laporan awal menyebutkan aparat keamanan menembakkan senjata mereka ke udara untuk membubarkan demonstrasi, tapi beberapa lain berbeda menyatakan bahwa sedikitnya satu orang, dan mungkin hingga empat demonstran, ditembak mati.
Sumber-sumber polisi, yang dikutip kantor berita Iran Fars, membantah laporan tersebut dan menyatakan media asing membesar-besarkan laporan mengenai kerusuhan.
Namun, televisi pemerintah kemudian memberitakan beberapa korban jiwa jatuh.
Sengketa pemilihan

Ketegangan meningkat di Iran sejak ulama pembangkang yang berpengaruh Ayatullah Agung Hoseyn Ali Montazeri meninggal satu pekan lalu pada usia 87 tahun.
Pendukung tokoh oposisi Mir Hossein Mousavi berusaha memanfaatkan perayaan keagaman pekan ini untuk memperlihatkan pembangkangan yang berlanjut terhadap pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Setelah dilarang melancarkan protes, kubu oposisi memilih perayaan yang sangat penting dalam kalender Syiah, Ashura ketika jutaan warga Iran keluar rumah untuk menghadiri upacara dan parade, lapor wartawan BBC di Teheran Jon Leyne.
Perayaan ini meratapi kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad pada abad VII.
Mousavi mendapat suara terbanyak kedua dalam pemilihan presiden bulan Juni, dan kemarahan atas hasil pilpres memicu protes massal di Teheran dan kota-kota lain. Gelombang demonstrasi itu menyebabkan ribuan orang ditahan dan menelan beberapa korban jiwa.
Mousavi menyatakan pilpres yang mengantar Presiden Ahmadinejad ke masa jabatan kedua, curang.
Mousavi berada di rumah sakit tempat keponakannya, Seyed Mousavi dirawat setelah terluka fatal akibat tembakan di Lapangan Enghelab.
Kendati korban tewas jatuh selepas pemilihan presiden dan gelombang protes bulan Juni, korban tewas jarang jatuh setelah itu.
Meski aparat keamanan berusaha membubarkan mereka, demonstran menguasai sebagian wilayah tengah Teheran, dan polisi hanya bisa melihat dari kejauhan.
Aparat keamanan jelas harus melangkah berhati-hati antara agar tidak terlihat bersikap lunak, tapi juga tidak memprovokasi massa demonstran, kata Siavash Ardalan ofdari Siaran televisi bahasa Persia BBC.





























