Bentrokan lagi di Isfahan

Pasukan keamanan Iran bentrok dengan pendukung oposisi di kota Isfahan, demikian laporan situs pihak oposisi.
Para aktivis mengatakan polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan kerumuman orang yang berkumpul guna memperingati Ayatullah Hoseyn Ali Montazeri, yang meninggal beberapa hari lalu.
Montazeri merupakan salah satu ulama pembangkang paling terkenal di sana.
Hari Senin, belasan ribu warga Iran menghadiri pemakamannya di kota suci Qom dengan banyak pelayat meneriakkan yel-yel anti pemerintah.
Dalam upacara pemakaman, juga terjadi bentrokan antara pasukan keamanan dengan mereka yang hadir dan konfrontasi ini berlanjut di Qom hari Selasa.
Laporan televisi menunjukkan bahwa massa pendukung pemerintah mengadakan demonstrasi tandingan hari Selasa dan Rabu di Qom.
Kelompok reformis mengatakan kerusuhan juga terjadi di kota kelahiran Ayatullah, Najafabad, selama dua hari terakhir.
Bertindak kejam
Wartawan BBC Jon Leyne mengatakan konfrontasi ini merupakan bagian dari serangkaian demonstrasi yang akan dilakukan akhir pekan ini.
Pihak berwenang belum lagi memberikan konfirmasi mengenai adanya keributan di Isfahan, namun kepala polisi Iran hari Rabu memperingatkan bahwa protes pihak oposisi tidak akan diizinkan.
"Kami menasihatkan kepada gerakan ini agar menghentikan kegiatan mereka," demikian kantor berita setengah resmi Iran, Fars mengutip kepala polisi Esmail Ahmadi Moghaddam .
"Bila tidak mereka yangn melanggar hukum akan ditindak keras."
Para saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa warga berkumpul di mesjid utama Isfahan guna memperingati Ayatullah, namun ketika mereka tiba di sana pintu mesjid ditutup rapat dan pasukan keamanan meminta mereka membubarkan diri.
"Sedikit demi sedikit, bentrokan terjadi dan pasukan keamanan menggunakan gas air mata dan gas merica," kata seorang saksi mata.
"Mereka menyeret orang-orang dari toko dan memukuli mereka, kebanyakan di tempat sepi, namun beberapa pemukulan juga terjadi di jalan-jalan di luar pertokoan."
Seorang saksi lain yang memberi namanya sebagai Soheil mengatakan pasukan keamanan bertindak kejam, dan tidak perduli yang dipukuli itu "wanita, anak-anak, pria atau dewasa."
Menurut dia, aparat menghabiskan waktu selama dua jam untuk membubarkan massa.
Menurut situs Rahe sabz, ratusan polisi dan petugas berpakaian preman terlibat.
Sebuah situs lainnya, Parlemannews, mengatakan lebih dari 50 orang ditahan.
Laporan-laporan ini tidak bisa dicek secara independen, karena gerakan wartawan asing sangat dibatasi di Iran menyusul pemilihan presiden yang dipersengketakan bulan Juni lalu.





























