Rajapaksa unggul sementara

Hasil awal pemilu Sri Lanka menempatkan Presiden Mahinda Rajapaksa unggul 60% dari pesaingnya Jenderal Sarath Fonseka.
Pemilu Sri Lanka ini merupakan yang pertama sejak pemberontak Harimau Tamil berhasil dikalahkan setelah selama 25 tahun terlibat dalam perang saudara.
Pasca pengumuman awal ini, sebuah laporan menyebutkan pasukan tentara berjaga di sekitar Hotel Cinnamon Lakeside di pusat kota Kolombo, tempat Jenderal Fonseka tinggal.
Juru bicara militer Sri Lanka, Udaya Nanayakkara mengatakan penjagaan itu sebagai ''tindakan pencegahan'' setelah 400 orang lebih berkumpul di hotel tersebut.
"Kami tidak tahu apa motif mereka dan sebagai tindakan pencegahan kami menempatkan pasukan di sekitar hotel dan semua orang yang masuk dan keluar harus diperiksa'', katanya kepada kantor berita Reuters.
Sebelumnya Jenderal Fonseka mengatakan dia khawatir tentara tersebut berencana menangkapnya jika dia memenangi pemilu, tapi hal itu dibantah oleh pemerintah.
Wartawan BBC Charles Haviland di Kolombo mengatakan hasil awal ini menunjukan kalau Jenderal Fonseka - yang memimpin partai oposisi - gagal memecah dukungan etnis Sinhala, yang berarti suara kaum minoritas Tamil dan muslim tidak lagi memainkan peran penting dalam hasil pemilu.
Tuduhan mengatur Pemilu
Pemilu ini berlangsung damai setelah kekerasan dan perselisihan sengit terjadi dalam masa kampanye yang menyebabkan empat orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Tapi ada pengecualian di kawasan Utara yang ditempati oleh kaum Tamil.
Di kota Jaffna, lembaga pengawas kekerasan Pemilu melaporkan terjadi setidaknya enam ledakan sebelum dan sesudah pemungutan suara berlangsung.
Berikutnya ada dua ledakan di Vavuniya, di kota dekat perkemahan bagi orang yang mengungsi akibat perang. Lembaga pengawas menduga ledakan ini sebagai upaya intimidasi sistemik agar warga tidak memberikan suara.
Serangan granat juga terjadi di kawasan yang dikuasai oleh kaum Sinhala dimana pertikaian sering terjadi diantara pendukung dua kandidat.
Kemudian muncul pemberitaan kalau Jenderal Fonseka tidak bisa memberikan suaranya karena namanya tidak terdaftar.
Televisi pemerintahan seringkali menayangkan iklan propaganda yang mengatakan kalau dia tidak berhak untuk menjadi Presiden. Tapi Komisi Pemilihan mengatakan tidak ada kendala hukum bagi jenderal tersebut untuk mengisi posisi itu jika dia memenangkan pemilu.
Dua kandidat ini sebenarnya sangat berdekatan saat mengalahkan pemberontak Harimau Tamil Mei tahun lalu tapi kemudian Jenderal Fonseka keluar dari militer, dengan alasan dia telah disingkirkan pasca perang.
Dia juga menuduh Presiden telah mengatur pemilu, tapi hal itu dibantah pemerintah.
Saat masa kampanye kedua kandidat menjanjikan untuk menambah subsidi dan kenaikan gaji.
Bagaimanapun para ekonom mengatakan sulit bagi negara ini untuk memotong anggaran dan pada saat yang bersamaan anggaran juga harus digunakan untuk membayar hutang sebesar US$ 2,6 miliar dari lembaga keuangan internasional IMF.





























