AS ungsikan korban gempa

Amerika Serikat dalam beberapa jam ini akan memulai penerbangan darurat untuk mengungsikan korban yang parah akibat gempa Haiti.
Penerbangan darurat itu dihentikan Rabu lalu karena apa yang disebut Washington "masalah-masalah logistik".
Sejumlah dokter memperingatkan banyak orang akan meninggal jika penerbangan itu tidak dimulai lagi.
Juru bicara Gedung Putih, Tommy Vietor, dalam sebuah pernyataan Minggu malam menyebutkan, "Setelah menerima jaminan adanya kapasitas tambahan baik di sini dan mitra internasional, kami tegaskan kami dapat memulai lagi penerbangan penting ini."
"Penerbangan ini dimulai lagi dalam 12 jam ke depan. Pasien-pasien sedang diperiksa untuk pemindahan mereka. Para dokter memastikan mereka aman untuk penerbangan. Kami menyiapkan pelayanan penerbangan untuk anak-anak di atas pesawat jika diperlukan," lanjutnya.
Menurut Vietor, Pemerintah Amerika bekerja sama dengan mitranya, LSM dan negara bagian Amerika untuk meningkatkan kapasitas dalam perawatan pasien asal Haiti.
Ratusan pasien dengan luka tulang belakang, luka bakar dan cedera lainnya diterbangkan pesawat militer Amerika ke Amerika sejak gempa terjadi.
Sebagian besar korban gempa ini dirawat di Florida.
Namun Amerika Serikat menghentikan apa yang disebut penerbangan amal hari Rabu.
Juru bicara Gedung Putih mengatakan kepada BBC langkah itu diambil karena "masalah-masalah logistik" bukan biaya kesehatan seperti dilaporkan sebelumnya.
Pekan lalu, Gubernur Florida Charlie Crist memperingatkan pemerintahan Barack Obama bahwa "sistem kesehatan negara bagian itu dengan cepat sudah mencapai titik jenuh khususnya di bidang perawatan trauma."
Nasib anak yatim
Sementara itu, sejumlah anak-anak Haiti yang diidentifikasi sebagai yatim oleh satu kelompok orang Amerika untuk dibawa keluar negeri ternyata kemungkinan memiliki orang tua.
Sepuluh orang Amerika akan hadir di pengadilan hari Senin setelah bus mereka dengan 33 anak-anak dihentikan di perbatasan Republik Dominika.
Haiti memberlakukan kontrol baru terhadap perpindahan anak-anak menyusul gempa 12 Januari yang menewaskan sekitar 200.000 orang.
Para pejabat khawatir anak yatim itu sekarang rawan diculik dan dijual untuk diadopsi.
Sementara itu Program Pangan PBB mulai membagi-bagikan bantuan makanan secara besar-besaran di 16 tempat di ibu kota Haiti, Port-au-Prince, untuk memberi makan dua juta orang.
Kaum wanita diijinkan mengambil 25 kilogram beras pembagian yang cukup memberi makan satu keluarga sampai dua minggu.





























