Iran siap kirim uranium

Program nuklir Iran
Keterangan gambar, Iran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan perdamaian

Presiden Iran mengatakan telah siap mengirimkan uranium ke luar negeri untuk diolah menjadi bahan bakar, seperti syarat dalam perjanjian program nuklir.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengatakan kepada TV milik pemerintah bahwa "tidak masalah" bagi Iran jika sebagian besar persediaan dibawa untuk beberapa bulan dan dikembalikan dalam bentuk bahan bakar padat.

Koresponden BBC mengatakan keputusan itu adalah suatu perubahan sikap yang besar dari Teheran.

AS mengatakan hal itu merupakan penawaran baru, dan "siap untuk mendengarkan".

Bulan lalu, diplomat mengatakan Iran telah menyampaikan kepada Badan Energi Atom Internasional IAEA bahwa tidak menerima syarat yang tercantum dalam perjanjian dan malah menuntut pertukaran dilakukan secara simultan di dalam negeri.

AS dan sekutunya khawatir Iran berupaya membangun senjata nuklir. Iran bersikeras program nuklirnya digunakan untuk perdamaian.

'Jawaban pasti'

Perjanjian pada Oktober antara Iran, IAEA dan juga disebut P5+1 - AS, Rusia, Cina, Inggris raya, Prancis dan Jerman - menghendaki agar Iran mengirimkan sekitar 70% dari pengayaan uranium kepada Rusia dan Prancis, untuk diproses menjadi bahan bakar penelitian reaktor.

Tetapi dalam beberapa bulan ini, pejabat Iran melontarkan kritik terhadap syarat tersebut dan mengatakan mereka enggan untuk mengirim uranium bila nantinya tidak memperoleh bahan bakar dari hasil proses uranium itu secara simultan. Permintaan itu tidak dapat disetujui oleh negara barat.

"Tidak masalah bagi kami untuk mengirimkan uranium ke luar negeri," kata Presiden Ahmadinejad dalam wawancara dengan stasiun televisi Selasa.

"Kami mengatakan akan memberikan 3,5% uranium dan akan mendapat bahan bakar. Untuk memperoleh bahan bakar dibutuhkan waktu sekitar empat sampai lima bulan.

"Jika kami mengirimkan pengayaan uranium ke luar negeri dan mereka tidak memberikan kami 20% bahan bakar hasil pengayaan bagi reaktor kami, kami mampu memproduksinya di Iran."

Menanggapi pernyataan Ahmadinejad, pemerintah AS melalui juru bicaranya PJ Crowley mengatakan AS "tidak mempersiapkan untuk mengubah perjanjian. Kami tidak tertarik untuk melakukan negosiasi kembali. Jika Iran ingin menerima syarat itu mereka harus menyampaikan kepada IAEA".

Tetapi kemudian, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan "jika Iran ingin menyampaikan sesuatu yang baru, kami siap untuk mendengarkan".

Koresponden BBC Teheran, Jon Leyne, melaporkan dari London, meskipun muncul keraguan terhadap sikap Iran, tetapi perubahan ini cukup berarti.

AS menekan pemberian sanksi baru bagi Iran karena program nuklir, jadi pernyataan ini bisa jadi sebagai upaya pemerintah Iran untuk mengulur waktu.

Warga AS

Tiga warga AS ditahan di Iran
Keterangan gambar, Tiga warga AS ditahan di Iran karena melewati perbatasan wilayah Kurdi

Dalam wawancara tersebut, Ahmadinejad juga mengatakan sedang melakukan negosiasi tentang kemungkinan pertukaran tahanan Iran di AS dengan tiga warga AS yang ditahan di Iran.

"Ada pembicaraan untuk menukar tahanan, jika itu dimungkinkan," kata dia. " Kami berharap seluruh tahanan bisa dibebaskan."

Ahmadinejad tidak menyebutkan secara rinci, tetapi pada Desember, Teheran menyampaikan daftar 11 orang Warga Iran yang disebut ditahan di AS, termasuk pakar nuklir yang hilang di Saudi Arabia dan mantan pejabat kementerian pertahanan yang hilang di Turki. AS membantah mengetahui keberadaan mereka.

"Saya telah mengatakan akan membantu membebaskan mereka, tetapi sikap sejumlah pejabat AS merusak rencana itu," kata dia. "Jumlah warga Iran yang ditahan di penjara AS cukup banyak. Mereka menculik beberapa warga kami ketika berada di negara lain. "

Tetapi, Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS Mike Hammer mengatakan kepada Kantor Berita AFP : "Kami tidak membicarakan tentang pertukaran tahanan dengan Iran. "

Tiga warga AS yang ditahan di Iran - Shane Bauer, Sarah Shourd dan Josh Fattal - melakukan perjalanan di wilayah Kurdi Irak pada Juli lalu, dan tanpa sengaja melewati perbatasan Iran, menurut keterangan keluarga mereka. Iran menuduh mereka sebagai mata-mata.