Iran balik kritik AS

Iran menyerang Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton atas tudingan negara itu sekarang menjadi negara "diktator militer".
Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki menyebut pernyataan yang dikeluarkan Clinton hari Senin di Qatar sebagai "tipu daya baru".
Clinton mengatakan bahwa pemerintah Tehran disusupi oleh Pasukan Penjaga Revolusi Iran.
Sementara itu Pemintah Rusia memperingatkan Iran bahwa mereka kemungkinan akan menyetujui satu sanksi baru.
Juru bicara Kremlin mengatakan Iran harus memperbaiki kerjasama dengan badan pengawas nuklir PBB, IAEA, dan mengatasi kekhawatiran program nuklirnya akan digunakan untuk keperluan militer.
"Komunitas Internasional harus yakin bahwa program nuklir Iran bertujuan damai. Namun jika kewajiban tersebut tidak dipatuhi, tidak ada satu pihak pun yang menolak penerapan sanksi baru," ujar Natalya Timakova.
Di Iran, Mottaki mengatakan "Amerika sendiri terjebak di semacam diktator militer dengan meningkatkan ketegangan di wilayah."
Pernyataan ini dilaporkan oleh Kantor Berita Mahasiswa Iran yang setengah resmi.
"Amerika memiliki pandangan yang salah atas masalah di Timur Tengah dan masih meneruskan kebijakan yang salah di masa lalu," ujarnya.
Saudi khawatir
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal mengatakan sanksi tambahan terhadap Iran tidak akan cukup cepat menyelesaikan masalah.

Di Riyadh, Al-Faisal menyatakan ancaman dari Iran menuntut "penyelesaian lebih cepat" daripada sanksi.
Dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Pangeran Al-Faisal menjelaskan, "Pemberian sanksi adalah solusi jangka panjang. Mungkin sanksi itu bisa berjalan tapi kami tidak dapat memastikan."
"Namun kami melihat masalahnya dari kerangka waktu jangka pendek mungkin karena kami lebih dekat kepada ancaman, jadi kami menginginkan penyelesaian cepat bukan yang bertahap," katanya.
Wartawan BBC Kim Ghattas menyebutkan, meskipun Menlu Saudi tidak merinci pandangannya di depan umum mengenai penyelesaian cepat, kemungkinan pilihan itu dibahas di ruang tertutup antara Hillary Clinton bersama Raja Abdullah.





























