Iran dekati Cina soal program nuklir

Pejabat tinggi nuklir berkunjung ke Cina di tengah tanda-tanda Beijing memperlunak penentang terhadap sanksi baru untuk Teheran berkaitan dengan program nuklir.
Dutabesar Amerika untuk PBB, Susan Rice, mengatakan Cina siap untuk mengadakan perundingan "serius" dengan negara-negara Barat mengenai resolusi baru PBB.
Ini menandai pergeseran kebijakan di pihak Cina, yang memililiki hubungan erat dengan Iran. Cina menyatakan menghendaki penyelesaian damai.
Kubu negara-negara Barat menuding Iran berusaha menguasai senjata nuklir, namun Tehran membantah tuduhan tersebut.
Di masa lalu, Cina menyatakan keengganan untuk mempertimbangkan sanksi baru dijatuhkan, dan sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, bersama dengan Prancis, Amerika Serikat, Inggris dan Rusia, negara besar Asia tersebut memiliki hak veto.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan dia mengharapkan sanksi sudah siap "dalam beberapa pekan".
Beijing menyatakan komitmennya untuk mengikuti pembicaraan dalam kontak telepon hari Rabu, kata pejabat Amerika kepada kantor berita Associated Press.
Rice mengatakan Amerika Serikat, Inggris Prancis, Jerman, Rusia dan Cina telah sepakat untuk mulai merancang resolusi PBB mengenai program nuklir Iran.
Rice mengatakan kepada CNN: "Cina telah setuju untuk duduk dan memulai negosasi serius di New York dengan yang lain di dalam [kelompok enam negara] ... sebagai langkah awal untuk mengikat seluruh Dewan Keamanan dengan sanksi keras terhadap Iran.
Kanselir Jerman Angela Merkel juga telah menghubungi pejabat Cina dan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao, lapor kantor berita AFP.
Dalam perkembangan terkait, kepala perunding nuklir Iran, Saeed Jalili berada di Cina, untuk mengadakan pertemuan dengan para pejabat nuklir negara tersebut.
Saat tiba di Beijing, Jalili mengatakan kunjungan ini berguna bagi kedua negara dan kawasan.





























