Amerika dukung sanksi Korsel

torpedo Korea Utara
Keterangan gambar, Penyelidik mengatakan tanda angka 1 konsisten dengan torpedo yang dimiliki oleh Korea Utara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mendukung pengumuman Korea Selatan untuk menerapkan berbagai sanksi kepada Korea Utara terkait tenggelamnya kapal perang Cheonan.

Sanksi itu mencakup pembekuan perdagangan dengan Korea Utara dan larangan kapal Korea Utara memasuki perairan Korea Selatan dan diadukannya Pyongyang ke Dewan keamanan PBB.

Hillary Clinton juga menyatakan sikap mengancam Korea Utara harus dihentikan dan dia juga menyebutkan Amerika Serikat akan memperketat sanksi mereka terhadap negara komunis itu.

Sebelumnya, Seoul mengumumkan sanksi perdagangan terhadap Korea Utara setelah ada bukti bahwa Pyongyang menenggelamkan salah satu kapal perangnya.

Dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak mengatakan selain kompleks pabrik patungan kedua Korea, semua perdagangan akan dibekukan.

Semua kapal dagang dari Utara akan ditolak.

Lee mengatakan Pyongyang harus menanggung akibat aksinya mentorpedo salah satu kapal AL Korsel bulan Maret.

Ia menambahkan pihaknya akan mengadukan Korea Utara kepada Dewan Keamanan PBB.

Lee mengatakan Korea Selatan sempat lupa bahwa negara itu berbatasan dengan ''salah satu negara yang paling gemar menyulut perang di Bumi''.

Dia juga bersumpah untuk memanfaatkan hak Korea Selatan untuk membela diri jika Utara kembali melancarkan provokasi.

Wartawan BBC John Sudworth di Seoul mengatakan langkah-langkah yang ditempuh Korea Selatan mungkin tanggapan paling jauh yang bisa dikeluarkan Seoul, bukannya aksi militer.

''Rekayasa''

Perkembangan ini terjadi satu pekan setelah tim ahli dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Swedia mengatakan dalam laporan investigasi mereka bahwa torpedo menghantam kapal Korea Selatan tersebut.

Mereka melaporkan bahwa bagian-bagian dari torpedo yang diangkat dari dasar laut memiliki label aksara yang mirip dengan desain Korea Utara.

Korea Utara membantah terlibat dalam insiden tenggelamnya Cheonan. Pyongyang juga menyebut investigasi itu hasil ''rekayasa'' dan mengancam melancarkan perang jika sanksi dijatuhkan ke negara tersebut.

Sementara itu, Menlu AS Clinton menyeru Cina agar bekerja sama dengan Amerika Serikat berkaitan dengan isu Korea Utara.

Ketika berbicara di Beijing, Clinton mengatakan Pyongyang harus dimintai tanggung jawab atas serangan terhadap Cheonan.

Cina merupakan sekutu satu-satunya bagi Korea Utara dan belum bersuara mengenai dalam insiden Cheonan.

Pukulan berat

Korea Utara mengatakan akan melakukan pembalasan atas pengumuman Korea Selatan itu.

Pejabat kedutaan Indonesia untuk Korea Utara di Pyongyang Riza Hera Wardana mengatakan pemberitaan melalui televisi setempat menyebutkan mereka tetap menyangkal terlibat dalam tenggelamnya kapal Cheonan.

"Posisi mereka tidak berubah, mereka tetap menyangkal terlibat dan mereka tampaknya sudah seperti mengantisipasi bila ada sanksi yang diterapkan," kata Riza kepada BBC Indonesia.

"Nada mereka cukup keras dan reaksi keras mereka seolah menantang perang bila ada sanksi yang diterapkan," tambahnya.

Riza juga memperkirakan dampak sanksi yang diumumkan Korea Selatan akan cukup berat bagi Pyongyang.

"Mereka sangat menggantungkan bantuan dari luar dan melakukan perdagangan dengan negara terdekat seperti Cina dan Korea Selatan. Jadi efeknya akan cukup besar dan sangat tidak membantu dalam pemulihan ekonomi dan akibatnya mereka akan terpuruk lagi."

Riza juga mengatakan kebijakan pemerintah Korea Utara lebih mengedepankan militer sehingga sektor-sektor lain tidak dikedepankan.

"Kebijakan mereka adalah militer terlebih dahulu. Semacam ujung tombak dan sektor lain dilakukan setelah langkah militer dijalankan terlebih dahulu."