Cina akan naikan nilai yuan

Cina mengatakan akan menaikkan nilai mata uang yuan terhadap dolar dan mata uang lainnya.
Bank Sentral Cina mengumumkan bahwa mekanisme nilai tukar akan "lebih fleksibel", namun tidak memberikan rincian kapan itu akan dilakukan dan seberapa besar yang akan diambangkan.
Selama ini, nilai yuan dipatok terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga menimbulkan kritikan bahwa Cina berusaha melindungi ekspor negara tersebut.
Presiden Barack Obama dan Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) menyambut baik pengumuman Cina tersebut.
Amerika Serikat selama ini kritis terhadap Beijing, dengan mengatakan Cina sengaja membuat nilai mata uang mereka lemah.
Nilai yuan dipatok satu dolar bernilai 6.83 yuan sejak bulan Juli 2008.
Bank Sentral Cina mengatakan perubahan nilai tukar ini dimungkinan karena membaiknya situasi perekonomian dunia.
Namun, bank tersebut mengatakan tidak akan terjadi perubahan besar-besaran, karena saat ini tidak "ada dasar untuk melakukan perubahan yang besar."
Menurut laporan wartawan BBC Damien Grammaticas di Beijing, pengumuman ini dilakukan tampaknya untuk menghindari kritikan yang akan ditujukan kepada Cina di KTT G-20 yang berlangsung pekan depan di Kanada, dimana Obama akan bertemu Presiden Cina, Hu Jintao.
Ketua IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan langkah Cina ini merupakan "perkembangan yang disambut baik."
"Keputusan Cina untuk meningkatkan fleksibilitas nilai tukar mata uang mereka merupakan langkah yang konstruktif yang bisa membantu membaiknya perekonomian dan membuat ekonomi global lebih berimbang." kata Presiden Obama.
Di bawah tekanan
Amerika Serikat dan IMF mengatakan bahwa nilai yuan sengaja dibuat lemah, sehingga membantu daya saing perusahaan Cina di luar negeri, dan membuat nilai perdagangan Cina mencapai nilai surplus besar.
Cina juga membeli dolar dalam jumlah besar guna mencegah naiknya nilai yuan, sehingga cadangan mata uang asing mereka tinggi.
Cara Cina menginvestasikan cadangan mata uang asing itu dipandang oleh banyak ekonom sebagai faktor penting dalam terjadinya krisis keuangan baru-baru ini.
Bulan April, Departemen Keuangan Amerika Serikat menunda laporan yang akan menyebut Cina sebagai manipulator mata uang.
Penundaan itu dilakukan guna memberikan waktu lebih banyak kepada Beijing untuk melakukan reformasi, tanpa tampak bahwa mereka mendapatkan tekanan untuk melakukannya.
Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat mengatakan nilai yuan yang rendah mempengaruhi perekonomian di wilayah konstituen mereka.





























