Kuba setuju bebaskan 52 tapol

Guillermo Farinas mogok makan untuk menuntut Kuba bebaskan tapol
Keterangan gambar, Guillermo Farinas mogok makan untuk menuntut Kuba bebaskan tapol

Kuba setuju membebaskan 52 orang tahanan politik yang telah ditahan rezim komunis selama beberapa dekade.

Perkembangan ini terjadi setelah perundingan berlangsung di Havana yang melibatkan tim pejabat Spanyol dan Gereja Katolik Roma.

Lima tahanan diperkirakan akan segera meninggalkan penjara, serangkan sisanya akan dibebaskan dalam beberapa bulan ke depan.

Menteri Luar Negeri Spanyol Miguel Angel Morationos, yang berkunjung ke Havana. mengatakan perkembangan tersebut ''membuka zaman baru di Kuba''.

Moratinos, yang turut dalam perundingan, juga menyatakan harapan bahwa langkah tersebut bisa membantu ''menyisihkan perselisihan mengenai nasib tahanan untuk selama-lamanya''.

Pemerintah Kuba menghadapi tekanan untuk membebaskan pembangkang sejak seorang tahanan yang melancarkan mogok makan bulan Februari. Seorang tahanan lain dilaporkan sekarat.

Kuba selalu membantah memenjarakan tahanan politik. Aparat Kuba menyebut mereka yang ditahan itu tentara bayaran yang diupah oleh Amerika Serikat untuk merongrong pemerintah Havana, kata wartawan BBC di Havana, Michael Voss.

Kabar bahwa Kuba akan membebaskan puluhan tapol mengundang beragam reaksi di kalangan aktivis HAM.

Kesepakatan mengenai pembebasan para tapol itu diumumkan oleh pejabat Gereja di Havana.

Menlu Kuba Bruno Rodriguez juga hadir dalam pertemuan di Havana tersebut.

Mereka membahas keberadan tahanan dan kasus Guillermo Farinas, pembangkang yang menolan makan sejak bulan Februari untuk menuntut pembebasan para tahanan politik.

Kardinal Jaime Ortega mengatakan lima tahanan - yang namanya tidak diumumkan - dijadwalkan dibebaskan hari Rabu, dan 47 tahanan lain dalam masa beberapa bulan ke depan.

Lima orang yang dibebaskan akan diizinkan ''segera bertolak ke Spanyol, disertai kerabat mereka,'' kata pernyataan Gereja.