Pembangkang Kuba akhiri mogok makan

Guillermo Farinas
Keterangan gambar, Farinas mulai mogok makan setelah pembangkang lain meninggal

Pembangkang Kuba Guillermo Farinas mengakhiri mogok makan setelah pemerintah mengumumkan telah membebaskan 52 tahanan politik.

Farinas yang menolak makan selama lebih dari 130 hari dilaporkan terancam nyawanya dalam beberapa hari ini.

Wartawan BBC Michael Voss di Havana menyatakan langkah ini sebagai pembebasan terbesar selama ini di Kuba dan mungkin menjadi titik perubahan dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kematian karena aksi mogok makan pada bulan Februari meningkatkan tekanan terhadap Kuba.

Farinas mulai berpuasa setelah kematian Orlando Zapata Tamayo sesudah mogok makan selama 85 hari.

Menyusul pengumuman Rabu lalu, Menteri Luar Negeri Spanyol meminta Uni Eropa memperlunak Posisi Bersama terhadap Kuba.

Kebijakan tahun 1996 itu menyerukan perbaikan dalam hak asasi manusia dan demokrasi sebelum memulihkan hubungan dengan Kuba.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menyambut baik langkah Kuba yang dia lukiskan "sesuatu yang sudah waktunya namun demikian tetap sangat menyambut baik pembebasan itu".

Wartawan BBC menyebutkan, Kuba menyangkal memiliki tahanan politik dengan menyebut mereka tentara bayaran Amerika Serikat untuk merongrong kekuasaan Havana.

Menurut Voss, Presiden Raul Castro tertekan oleh kritik internasional menyusul kematian Tamayo bulan Februari.