Buruh Kamboja bentrok dengan polisi

Serikat buruh pekerja pabrik garmen di Kamboja mengatakan polisi menggunakan pemukul listrik untuk membubarkan aksi protes.
Serikat Buruh Bebas mengeluh bahwa hak melakukan aksi demonstrasi dilanggar dan sejumlah anggota mereka terluka.
Para buruh mengatakan mereka mendukung pegiat serikat yang dipecat sementara polisi mengatakan mereka melaksanakan perintah pengadilan untuk mentertibkan jalan-jalan.
Namun kerusuhan itu merupakan gejala kesulitan sosial yang lebih besar.
Pabrik-pabrik garmen Kamboja sempat menikmati keuntungan besar namun resesi global menyebabkan banyak yang mengalami kesulitan.
Puluhan ribu buruh kehilangan pekerjaan menyusul penurunan penjualan di Eropa dan Amerika Serikat.
Industri garmen Kamboja, yang merupakan sektor tertinggi ketiga dalam pendapatan negara setelah pertanian dan pariwisata, diguncang sejumlah aksi demonstrasi di berbagai pabrik dalam minggu-minggu terakhir ini.
Pemogokan dan aksi buruh menyebabkan pemerintah menandatangani perjanjian bulan ini dengan perusahaan-perusahaan dan lima serikat buruh pro-pemerintah untuk kenaikan upah minimum menjadi US$ 61 dari US$ 56.
Kenaikan ini akan mulai berlaku bulan Oktober.
Koalisi serikat buruh pakaian Kamboja yang mewakili sekitar 40.000 pekerja, menuntut upah minimum sebesar US$ 93 dan tidak menyepakati kenaikan tersebut.
Inflasi dua digit di dalam negeri menyebabkan upah minumum sekitar US$ 56 (Rp 500.000) per bulan tidak dapat mencukupi kehidupan sehari-hari.





























