AS tunda laporan soal mata uang Cina

Pemerintah AS menunda penerbitan laporan mata uangnya -yang mulanya diharapkan diumumkan Jumat (15/10) kemarin- yang diduga akan berisi pernyataan resmi yang menyebut Cina sebagai "manipulator mata uang".
Departemen Keuangan merilis dua laporan resmi tiap tahun terkait mata uang yang dipakai oleh negara-negara mitra dagangnya.
Selama ini menyebut Cina sebagai biang keladi manipulasi mata uang belum pernah dilakukan AS. Kini laporan itu diduga tidak akan dikeluarkan sebelum KTT G20 mendatang dilangsungkan.
Menurut Cina mestinya AS tidak menggunakan mata uang yuan yang bernilai rendah sebagai "kambing hitam" atas persoalan ekonomi domestiknya.
Dalam sebuah acara briefing rutin, juru bicara menteri perdagangan Yao Jian mengatakan Cina akan meneruskan upaya mereformasi mata uangnya, namun dalam tempo yang dibuatnya sendiri.
Sementara laporan Depkeu AS yang terakhir, terbit April, akhirnya ditunda penerbitannya hingga tiga bulan dan tidak menyinggung soal bagaimana Cina memanipulasi mata uangnya.
Tak masuk akal
Penyebutan satu negara sebagai manipulator mata uang terakhir dilakukan AS dibawah pemerintahan Bill Clinton yang saat itu juga menunjuk hidung Cina.
Sejumlah analis menduga Cina sengaja membuat yuan melemah sedemikian rupa sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekspornya dan unggul bersaing di pasar global.
Jubir Depdag Cina, Yao Jian, mengatakan Cina akan melakukan reformasi mata uang berdasarkan situasi ekonomi negerinya.
Yao juga menolak kritik terbaru dari Menteri Keuangan Yoshihiko Noda dan menyebutnya "tak masuk akal".
Noda ikut mendesak Cina agar menaikkan nilai yuan, dan mengatakan ancaman terjadinya perang mata uang kemungkinan akan jadi isu penting dalam KTT G20 mendatang yang akan berlangsung di Seoul Korea Selatan.





























