Menteri G20 sepakat rombak IMF

Para menteri negera-negara G20 sepakat memperbesar hak suara negara-negara berkembang di Dana Moneter Internasional.
Dalam pertemuan mereka di Korea Selatan, para menteri G20 setuju dengan pengalihan sekitar 6% suara di IMF kepada sejumlah negara berkembang yang tumbuh paling pesat.
Negara-negara itu juga akan memperoleh kursi lebih banyak di Dewan Direksi IMF, sedangkan negara-negara Eropa Barat akan kehilangan dua kursi.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap akan memegang hak veto atas keputusan-keputusan penting.
Keputusan-keputusan penting memerlukan dukungan 85% suara sedangkan Amerika memegang 17% persen berdasarkan sistem pemberian suara IMF.
'Manipulasi mata uang'
Selama pembicaraan di Gyeongju, sebuah kota di bagian tenggara Korea Selatan, para menteri keuangan G20 juga sepakat untuk bergerak menuju sistem mata uang yang lebih ditentukan oleh pasar.
Cina menghadapi tekanan untuk mengakhiri kebijakan menahan kurs mata uangnya, yuan, tetap rendah terhadap mata uang negara lain untuk mempertahankan daya saingnya.
Namun tidak ada patokan waktu untuk melaksanakan perubahan sehingga Beijing tetap mempertahankan posisi yang sudah lama dia pegang bahwa Cina akan mereformasi kebijakan mata uangnya secara bertahap.
Unsur lain dalam ketegangan soal kurs mata uang itu adalah aliran dana investasi yang masuk ke negara-negara berkembang dan aliran itu cenderung menaikkan kurs mata uang mereka, dan berikutnya menggerus daya saing mereka.
Ini bagian dari dampak kebijakan di Amerika Serikat yang menyebabkan kalangan investor mencari keuntungan investasi lebih tinggi di tempat lain.
Menteri Ekonomi Jerman Rainer Bruederle secara tersirat menyatakan kebijakan Amerika, jika tidak diubah, secara tidak langsung sama dengan manipulasi mata uang. Tuduhan semacam ini sering dilontarkan ke Cina.





























