Abas tolak kembali ke pembicaraan damai

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas menepiskan kemungkinan untuk kembali ke pembicaraan damai dengan Israel kecuali kalau negara itu menghentikan pembangunan pemukiman di seluruh wilayah yang didudukinya termasuk Yerusalem Timur.
Komentarnya ini disampaikan saat Amerika Serikat sedang mencoba mendesak Isaral agar menangguhkan pembangunan tempat pemukiman, kecuali di Yerusalem Timur.
Abbas mengatakan ia belum menerima permintaan resmi dari Washington untuk kembali ke meja perundingan.
Pembicaraan antara Israel dan Pelestina digelar kembali secara singkat bulan September lalu.
Namun pembicaraan tersebut dihentikan beberapa pekan kemudian ketika Israel menolak memperluas moratorium mengenai pembangunan tempat pemukinam.
"Kalau penangguhan pembangunan tempat pemukiman itu tidak mencakup Yerusalem, atau dengan kata lain jika tidak ada pembekuan proses pembangunan tempat pemukiman secara menyeluruh di semua wilayah Palestina yang diduduki Israel, termasuk Jerusalem, maka kami tidak akan menerimanya," kata Abbas kepada para wartawan usai bertemu dengan Presiden Mesir Hosni Mubarak.
"Jika Israel ingin kembali melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan pemukiman, maka kami tidak akan bisa meneruskan perundingan. Pembekuan pembangunan tempat pemukiman harus meliputi seluruh wilayah Palestina dan yang paling penting di Yerusalem," tambah Abbas.
Bujukan dan tekanan
Bukan baru kali ini Presiden Abbas melontarkan pernyataan-pernyataan seperti itu, namun waktu penyampaiannya mengandung makna penting. Pernyataan itu disampaikan pada awal pekan ketika presiden AS Barack Obama mendesak agar proses permbicaraan Timur Tengah diteruskan, lapor wartawan BBC Jon Donnison di Ramallah.
Selama empat minggu Amerika Serikat tengah mencoba membujuk dan sekaligus menekan Israel agar membekukan kembali pembangunan rumah-rumah orang Yahudi di wilayah Tepi Barat yang didudukinya.
Pekan ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan meminta kabinetnya, yang beranggotakan dua orang dari buku sayap kanan yang pro-pemukim Yahudi, untuk menyetujui pembekuan selama 90 hari di Tepi Barat, kecuali di Jerusalem Timur.
Presiden Obama tampaknya kembali berusaha keras agar Israel dan Pelestina bersedia berunding lagi, namun kelambanan yang terjadi menunjukkan bahwa kedua pihak tampaknya sama-sama enggan untuk beringsut dari posisi mereka.





























