Rusia kejar dalang bom bandara

Presiden Rusia Dmitry Medvedev bersumpah akan memburu dan menghukukm siapapun yang ada di belakang aksi bom bunuh diri di Bandara Domodedovo, Moskow yang menewaskan 35 orang dan melukai lebih dari 100 orang lainnya itu.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menawarkan bantuan kepada pemerintah Rusia untuk mengejar para tersangka aksi berdarah itu.
Beberapa pejabat Rusia yang tidak disebutkan namanya mengatakan polisi kini memeriksa tiga orang tersangka yang diduga berkaitan dengan aksi berdarah itu.
Sejauh ini pemerintah Rusia mencurigai pemberontak Chechnya dan kawasan panas lain di kaukasus Utara adalah dalang peristiwa tragis tersebut.
Kecurigaan ini berasal dari aksi brutal sebelumnya yang juga terjadi di kota Moskow.
Bulan Maret tahun lalu, bom bunuh diri menghantam jaringan kereta bawah tanah Moskow yang sangat sibuk tepat di saat jam sibuk dan menewaskan setidaknya 40 orang dan melukai 80 orang lainnya.
Dari hasil penyelidikan, diketahui dua pelaku bom bunuh diri itu adalah para perempuan yang berasal dari salah satu daerah konflik di Rusia, Dagestan.
Lemahnya keamanan

Kelompok-kelompok pemberontak di Kaukasus Utara paham bahwa persepsi seputar kemampuan presiden dan perdana menteri menjaga keamanan warganya.
Dan serangan-serangan bom itu adalah untuk menunjukkan ketidakmampuan pemerintah Rusia melindungi warganya.
Berulangnya aksi bom bunuh diri di ibukota Rusia itu mengundang kritik dari kalangan pejabat Rusia sendiri.
Juru bicara Komite Anti Terorisme Rusia diN Parlemen Rusia Nikolai Sintsov menilai kejadian itu adalah buah dari sistem keamanan yang sangat tidak memadai.
Sedangkan Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Konstantin Kosachev kepada BBC mengatakan pemerintah Rusia perlu melakukan perbaikan sistem keamanan dan menyerukan sidang khusus parlemen membahas masalah ini.
Masalah keamanan di Rusia menjadi penting karena negeri Beruang Merah itu akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2014, Piala Dunia 2018.
Selain itu tahun depan Rusia akan menggelar pemilihan presiden yang sangat rawan terjadi gangguan keamanan.





























