Penangkapan pengunjuk rasa di Mesir

Sekitar 700 orang ditangkap di Mesir dalam operasi penggrebekan para pengunjuk rasa anti pemerintah, menurut pejabat keamanan.
Penangkapan dilakukan setelah bentrokan polisi dan pengunjuk rasa di dua kota menyusul unjuk rasa besar-besaran yang tidak diduga yang berlangsung Selasa (25/01)
Di ibukota Kairo, polisi memukuli pengunjuk rasa untuk membubarkan mereka sementara di Suez, sebuah kantor pemerintah dilaporkan dibakar pengunjuk rasa.
Laporan-laporan menyebutkan di Suez juga terjadi sebuah konfrontasi ketika para demonstran mencoba mengambil tiga mayat korban yang tewas dalam demonstrasi sebelumnya dari sebuah kamar mayat.
Kementrian Dalam Negeri Mesir sudah mengeluarkan larangan perkumpulan umum dan setiap orang yang turun ke jalan tidak akan ditolerir serta ditindak secara hukum.
Wartawan BBC di Kairo, Jon Leyne, melaporkan hingga saat ini tanggapan pemerintah atas unjuk rasa lebih pada pengerahan pasukan keamanan dengan melihat krisis politik ini sebagai ancaman keamanan semata.
Perdana Menteri Ahmed Nazif -seperti dikutip kantor berita Mena- menegaskan pemerintah berkomitmen pada kebebasan mengemukakan pendapat dengan cara-cara yang sah.
Dia juga mengatakan bahwa polisi telah bertindak dengan penuh kendali.
Hingga saat ini belum ada pernyataan dari Presiden Husni Mubarak, namun ia tampaknya menghadapi tekanan yang semakin berat, baik dari para demonstran maupun sekutunya Amerika Serikat dan Eropa, yang mengkhawatirkan kondisi yang memburuk.
Washington sudah meminta agar pemerintah Mesir mencabut larangan untuk berdemonstrasi.
Para pengunjuk rasa di Mesir terilhami oleh unjuk rasa baru-baru ini di Tunisia, yang bertekad akan terus melakukan protes sampai pemerintah jatuh.





























