AS dan Eropa serukan reformasi Mesir

AS dan Eropa meminta Mesir tidak lakukan kekerasan atas pemrotes.

Sumber gambar, REUTERS

Keterangan gambar, AS dan Eropa meminta Mesir tidak lakukan kekerasan atas pemrotes.

Para pemimpin AS, Inggris, Jerman dan Prancis mendorong Presiden Mesir Hosni Mubarak agar menghentikan kekerasan terhadap demonstran.

Mubarak juga diserukan secepatnya menggelar reformasi seperti dituntut para pengunjuk rasa.

Keterangan resmi Gedung Putih menyerukan otoritas Mesir agar segera "menurunkan ketegangan, mendukung penghormatan HAM dan menggelar reformasi politik secara kongkrit".

Tuntutan serupa juga disuarakan pemimpin Inggris, Jerman dan Prancis.

"Kami meminta Presiden Mubarak tidak menggunakan kekerasan saat menghadapi kelompok sipil, dan hadapi para pemrotes dengan damai," kata Perdana Menteri Inggris David Cameron, Kanselir Jerman Angle Markel dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, dalam pernyataan bersama.

Sementara di Ibukota Kairo, ribuan demonstran terus menggelar unjuk rasa dan mengabaikan kebijakan jam malam. Sebuah situasi yang kemudian dibiarkan oleh aparat militer yang terlihat hanya berjaga-jaga.

Gelombang unjuk rasa menuntut perubahan politik di Mesir sejauh ini telah mengakibatkan 74 orang tewas.

Presiden Mubarak, yang menolak mundur dari kekuasaan, telah menunjuk wakil presiden dan menteri-menteri baru. Ini dilakukannya sebagai reaksi atas gelombang unjuk rasa yang melanda negeri itu sejak lima hari terakhir.

Protes berlanjut

Walaupun jam malam telah diberlakukan, gelombang unjuk rasa terus berlanjut.

Di pusat Ibu Kota Kairo, yaitu di sekitar bundaran Tugu Pembebasan, para pengunjuk rasa tetap bertahan sampai tengah malam.

Aparat militer yang diberi tanggungjawab keamanan negara itu, hanya berjaga-jaga dan tidak mengambil tindakan apapun terhadap ribuan demonstran.

Tuntutan agar Presiden Mubarak turun dari jabatannya masih diteriakkan pemrotes. "Mubarak, menyingkir dari Mesir! Menyingkirlah dari negeri ini! Kami ingin kau turun! Kami tidak butuh menteri-menteri baru! Kami ingin presiden baru!" ujar seorang pemrotes kepada BBC.

Bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi sejauh ini telah menewaskan 74 orang tewas, sejak gelombang protes ini hari Selasa (18/1) lalu. Sedikitnya 2,000 orang dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka.