Polisi bubarkan demonstrasi di Bahrain

Sumber gambar, Nick Frei
Pasukan keamanan di Bahrain membubarkan ribuan orang yang menggelar demonstrasi anti pemerintah di Lapangan Mutiara di ibukota Manama Bahrain.
Ratusan polisi anti huru hara menggunakan gas airmata dan tongkat datang ke Lapangan Mutiara sebelum fajar pada Kamis (17/2).
Setidaknya dua orang tewas dalam peristiwa itu, menurut pihak oposisi.
Pemrotes meminta reformasi politik dan menginap di lapangan sejak Selasa (15/2).
Sebelumnya, bentrokan polisi dan pendukung pemerintah serta para demonstran, menewaskan dua orang dan puluhan terluka.
Ibrahim Sherif, dari partai sekuler Waad, mengatakan kepada BBC, polisi beraksi tanpa peringatan.
"Sepanjang hari itu banyak kabar yang menyebutkan kami memiliki 24 jam, tetapi ternyata serangan datang tanpa peringatan."
"Ratusan perempuan dan anak-anak menginap disana. Orang-orang tidur di tenda, .. dan tembakan gas air mata, orang-orang ini bisa jadi terperangkap disana dan menghirup gas air mata," kata dia.
Dia mengatakan melihat setidaknya 100 polisi anti huru hara dipinggir lapangan dan ratusan orang berlari dari lapangan ke jalan.
"Kami telah mengkonfirmasi dua orang tewas - satu berusia 65 tahun dan satu orang pemuda, dan satu orang dalam kondisi kritis," kata dia.
Ibrahim Sherif mengatakan puluhan orang mengalami luka-luka dan dibawa ke Rumah Sakit di Manama.
Sejumlah anak-anak terpisah dari orangtua mereka, ketika polisi menyerang orang-orang yang berada di lapangan.
Seorang pengusaha asal Swiss Nick Frei, yang tinggal di flat di dekat Lapangan Mutiara, mengatakan kepada BBC, dia terbangun karena mendengar suara keras dan tembakan, bukan peluru tetapi gas air mata.. puluhan orang terkena tembakan, dan membuat lapangan dipenuhi oleh gas air mata. Meski berada di lantai 34, dia menyebutkan dapat menghirup gas airmata.





























