Cina ubah kebijakan perdagangan

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan Cina kini tengah mengambil langkah-langkah untuk menyeimbangkan kembali kebijakan dagangnya meski masih banyak hal yang harus dilakukan.
Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu pengkritik kebijakan dagang yang diterapkan Negeri Tirai Bambu itu.
AS menuduh Cina menjaga nilai mata uangnya tetap rendah agar bisa memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional.
Harian China Daily edisi Jumat (4/2) melaporkan pemerintah negeri itu berencana akan memotong tarif impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Cina sejauh ini adalah eksportir terbesar di dunia, namun permintaan atas komoditi Cina di AS dan Eropa belakangan melemah.
"Cina sadar mereka tak bisa lagi bergantung pada pasar Amerika Serikat yang selama ini menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi mereka," kata Geithner dalam rapat dengan Komite Hubungan Nasional Senat AS.
"Cina tak memiliki alternatif selain mengganti strategi untuk lebih bergantung pada pasar dalam negeri," tambah Geithner.
"Cina sedang menuju ke arah itu namun kondisi tersebut tak bisa terwujud kecuali jika Cina membebaskan pergerakan nilai tukar mata uangnya," tandas Geithner.
"They are moving in that direction but it can't happen unless they let their exchange rate move too."
Pernyataan Geithner ini muncul di saat Cina tengah berupaya untuk meningkatkan permintaan dalam negerinya.
Wakil Menteri Perdagangan Cina Zhing Shan seperti dikutip harian China Daily mengatakan untuk meningkatkan pasar dalam negeri maka pemerintah Cina akan memotong tarif impor dan melonggarkan aturan bagi importir.
Zhing Shan menambahkan bahwa surplus besar yang diperoleh dari perdagangan internasional bukanlah tujuan utama kebijakan Cina.
"Salah satu tujuan kebijakan Cina adalah menjaga perdagangan yang seimbang," tegas Zhing meski surplus Cina dari perdagangan internasional pada bulan Januari sudah mencapai US$6,5 triliun atau Rp57 tiliun lebih.





























