Google bantu cari korban gempa

Sumber gambar, google
Google telah meluncurkan layanan Person Finder bagi warga yang terjebak dalam gempa dahsyat di Jepang.
Situs internet itu bertindak sebagai direktori dan papan pesan (message board), sehingga orang bisa mencari dan menemukan anggota keluarga, kerabat atau teman, atau memposting pesan bahwa mereka selamat.
Situs milik Google ini bisa disisipkan di situs internet dan halaman jejaring sosial dengan harapan layanan ini bisa menjangkau sebanyak mungkin orang.
Sistem ini terbukti berguna setelah bencana alam lain yang menyebabkan orang tidak bisa berhubungan satu sama lain.
Catatan korban
Dalam beberapa jam pertama sejak dibuka, Person Finder untuk gempa Jepang membukukan lebih dari 4.000 catatan log korban.
Dampak kerusakan akibat gempa yang disusul tsunami masih belum bisa dipastikan, meski besaran guncang gempa dan gelombang raksasa yang ditimbulkannya mungkin mengakibatkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Person Finder dikembangkan untuk menyelesaikan masalah yang kerap terjadi pasca banyak bencana alam ketika banyak lembaga bergerak di lapangan untuk memberikan bantuan dan menghimpun informasi tentang korban.
Ketika gempa bumi mengguncang Christchurch, Selandia Baru, Person Finder milik Google juga dimanfaatkan di sana.
Sebelum hadirnya alat bantu semacam Person Finder, sulit untuk membandingkan isi infomasi yang dihimpun oleh semua lembaga dan mempermudah keluarga dan teman bisa saling menemukan.
Yang menjadi landasan situs semacam itu adalah format pelaporan yang menggambarkan identitas dan ciri-ciri orang yang hilang, atau orang yang mengumumkan mereka selamat dengan cara yang mereka bisa gunakan.
Pasca bencana, banyak relawan di negara lain sering meniadakan situs internet untuk menghimpun informasi dengan format semacam itu, dan menambahkankan informasi yang terkumpul ke dalam database People Finder.
Situs lain menghimpun informasi lain dari blog, SMS dan tweet untuk kemudian diubah ke format yang bisa dimasukkan ke dalam database.
Sistem ini digunakan kali pertama setelah gempa bumi Haiti bulan Januari 2010.
Alat bantu pertama itu dibuat berdasarkan penanganan informasi pasca Badai Katrina yang menerjang New Orleans, AS.





























