Tingkat bahaya nuklir di Jepang dinaikkan

Truk militer dikerahkan menyemprotkan air di Fukushima Daiichi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Truk militer dikerahkan menyemprotkan air d kompleks pembangkit nuklir Fukushima Daiichi
Waktu membaca: 1 menit

Jepang menaikkan tingkat bahaya kecelakan di salah satu pembangkit nuklirnya yang rusak dari empat ke lima pada skala standard kegawatan kecelakaan atom internasional.

Perubahan ini menempatkan krisis di fasilitas nuklir Fukushima Daiichi dua tingkat di bawah bencana nuklir Chernobyl di Ukraina tahun 1986, yang dipandang sebagai kecelakaan nulir terburuk selama ini.

Angka lima dalam skala ini berarti keadaan di PLTN Fukushima merupakan kecelakaan yang mempunyai konsekuensi lebih luas.

Dengan demikian kecelakaan di Fukushima mempunyai kategori yang sama dengan kecelakaan nuklir di Thre Mile Island, Amerika Serikat, pada tahun 1979.

Kepala badan pengawas tenaga nuklir PBB, IAEA, Yukiya Amano memperingatkan bahwa perjuangan untuk menstabilkan fasilitas nuklir di Fukushima Daiichi yang rusak akibat gempa adalah adu cepat dengan waktu.

"Ini bukan sesuatu yang cuma harus ditangani oleh Jepang, rakyat dari seluruh dunia sebaiknya bekerjasama dengan Jepang dan rakyat di daerah bencana," kata Amano yang berkebangsaan Jepang.

Krisis nuklir di Jepang dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 9,0 dan tsunami yang terjadi Jumat lalu (11/3).

Sekitar 16,000 orang meninggal dunia atau hilang akibat bencana yang menimpa Jepang.

Dalam dua hari terakhir truk militer menyemprotkan air ke dalam kompleks nuklir di Fukushima Daiichi untuk mendinginkan reaktor.

Sementara itu tim teknisi berusaha menyambungkan kembali aliran listrik ke sistem pendingin yang macet pasca gempa pekan lalu namun sejauh ini tidak berhasil mendinginkan reaktor-reaktor yang kekurangan air

Pengelola PLTN Fukushima mengatakan pihaknya mungkin harus mengubur reaktor itu di bawah lapisan beton dan pasir untuk mencegah petaka kebocoran radiasi.

Hujan salju

Sementara itu salju lebat yang turun Kamis malam mempersulit upaya regu penolong untuk melakukan pencarian.

Jutaan warga Jepang sekarang menghadapi kekurangan air, makanan, bahan bakar, dan aliran listrik.

Sedangkan ratusan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal.

Pada hari Jumat, rakyat Jepang memperingati seminggu gempa dan tsunami dengan mengheningkan cipta selama satu menit pada pukul 1446(1246 WIB).

Dalam pidato televisi, Perdana Menteri Naoto Kan mengatakan bangsa Jepang akan membangun kembali negaranya.

Dia mengatakan bencana alam dan krisis nuklir merupakan ujian berat bagi rakyat Jepang dan meminta mereka agar tabah.