Koalisi Barat bantah Gaddafi sasaran serangan

Sumber gambar, Reuters
Koalisi negara-negara yang menyerang pasukan pemerintah Libia mengatakan Kolonel Muammar Gaddafi bukan sasaran, meski kompleks markasnya diserang.
Pasukan koalisi yang diperkuat oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis Minggu malam (20/3) menggempur sasaran di ibukota Libia, Tripoli.
Tripoli digempur dalam dua gelombang serangan pada malam kedua aksi militer koalisi Barat terhadap Libia.
Panglima angkatan bersenjata Inggris menyatakan menjadikan Gaddafi sebagai sasaran 'tidak diperkenankan'' dalam resolusi yang disetujui PBB.
Resolusi tersebut menyerukan perlindungan bagi warga sipil Libia.
Sementara itu, jurubicara Prancis mengatakan kalaupun lokasi pasti Kolonel Gaddafi diketahui, dia tidak akan diserang.
Kolonel Gaddafi tengah memerangi pemberontakan yang mulai pecah bulan lalu.
Kutukan Putin
Hari Minggu, Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox mengatakan menjadikan Gaddafi sebagi sasaran "bisa menjadi kemungkinan".
Namun, hari Senin, kepala staf pertahanan Inggris, Sir David Richards, mengatakan Gaddafi ''sama sekali bukan'' sasaran.
Naskah resolusi yang disetujui Dewan Keamanan PBB pekan lalu memberikan kewenangan untuk melakukan ''semua langkah yang diperlukan''' untuk melindungi warga sipil dari pasukan pro-Gaddafi, termasuk zona larangan terbang.
Juru bicara kementerian pertahanan Prancis, Laurent Tesseire, juga bertujuan semata-mata untuk melindungi warga sipil dan Kolonel Gaddafi sendiri bukan sasaran.
Ketika ditanya oleh stasiun radio Prancis apakah pemimpin Libia akan diserang jika keberadaannya diketahui, jubir itu mengatakan: ''Jawaban pertanyaan itu tidak.''
Pernyataan-pernyataan itu dikeluarkan oleh pejabat negara koalisi setelah malam kedua serangan pimpinan AS terhadap Libia.
Di Tripoli, kompleks Bab al-Aziziya yang menjadi salah satu sentra kekuasaan Kolonel Gaddafi menjadi sasaran pemboman.
Para wartawan Barat yang diundang mengunjungi kompleks tersebut diperlihatkan sebuah bangunan yang hancur.
Seorang pejabat dari salah satu negara koalisi, yang minta jati dirinya tidak disebutkan, mengatakan kepada wartawan bahwa serangan tersebut menghancurkan ''kemampuan komando dan kendali'' Kolonel Gaddafi.
Di ibukota Rusia, Moskow, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin hari Senin mengutuk resolusi PBB ''cacat''.
Menurut Putin, resolusi itu ''membolehkan segalanya.''
''Itu menyerupai seruan abad pertengahan kepada pasukan salib,'' kata Putin.
Rusia abstain dalam pemungutan suara tersebut mengenai resolusi di DK PBB pekan lalu.
Wartawan BBC Steve Rosenberg di Moscow mengatakan kecaman keras Putin mungkin dimaksudkan untuk membedakan sikapnya dari keputusan politik luar negeri Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan memperkuat popularitas dirinya di dalam negeri dengan melontarkan pernyataan keras.
Para diplomat mengatakan sidang Dewan Keamanan PBB akan digelar secara tertutup hari Senin dengan agenda situasi Libia.
Tanggapan Arab

Sumber gambar, AP
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa hari Senin mengatakan dia menghormati resolusi PBB yang memberikan wewenang aksi militer terhadap pemerintah Libia.
Sekjen Liga Arab menyatakan hal itu ketika berbicara kepada wartawan di ibukota Mesir.
Sehari sebelumnya, Amr Moussa mengatakan serangan udara Barat terhadap pasukan pemerintah Libia telah melampaui tujuan PBB untuk menerapkan zona larangan terbang.
Sebelumnya, negara Teluk Arab bersikukuh menyatakan mereka tetap mendukung kampanye militer internasional.
Pimpinan Dewan Kerjasama Teluk, GCC, Abdul Rahman Bin Hamad Al-Attiya, menyatakan hal itu dalam pertemuan puncak keamanan kawasan di Uni Emirat Arab.
Uni Emirat Arab dan Qatar menyediakan pesawat tempur untuk operasi internasional terhadap Libia.
Di Libia sendiri, pemberontak di bagian timur negara Afrika Utara itu merayakan serangan udara terhadap pasukan Kolonel Gaddafi.
Wartawan BBC di kota Tobruk mengatakan ada harapan di kalangan pemberontak bahwa serangan oleh pasukan koalisi akan memicu pemberontakan di antara pasukan pemerintah Libia.





























