Pasukan Gaddafi pukul mundur pemberontak

Sumber gambar, Reuters
Pemberontak Libia kewalahan mempertahankan lini depan setelah pasukan Muammar Gaddafi merebut kembali beberapa kota di belahan timur negara Afrika Utara tersebut.
Pemberontak kini kehilangan kota pelabuhan minyak yang penting: Ras Lanuf dan kota kecil di dekatnya, Bin Jawad.
Namun, laporan-laporan menyebutkan pertempuran berlanjut di kawasan tersebut.
Media melaporkan bahwa di wilayah barat, kota Misrata yang dikuasai pemberontak digempur pasukan pro-Gaddafi.
Selagi pertempuran berkecamuk sengit hari Rabu (30/03), wartawan BBC Ben Brown di Ajdabiya mengatakan menyaksikan pemberontak mengirim bala bantuan ke garis depan, termasuk empat sistem peluncur roket Katyusha.
Bala bantuan
Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebelumnya mengatakan dia tidak menutup kemungkinan untuk mempersenjatai pemberontak Libia
Obama juga mengatakan kepada wartawan hari Selasa bahwa Kolonel Gaddafi sudah sangat lemah akibat serangan udara koalisi dan pada akhirnya akan mundur.
Hari Selasa, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Menlu Inggris William Hague secara tersirat mengatakan resolusi PBB yang memberikan wewenang untuk melancarkan operasi militer internasional di Libia juga bisa memungkinkan pemberian senjata.
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membantah resolusi Dewan Keamanan PBB 1973 memberi mandat untuk mempersenjatai pemberontka Libia.
''Sekretaris Jenderal Nato Fogh Rasmussen menyatakan operasi di Libia dilancarkan untuk melindungi penduduk dan bukannya untuk mempersenjatainya - dan di sini, kami sepenuh sepakat dengan sekretaris jenderal Nato,'' kata dia.
Dalam perkembangan lain, konferensi internasional mengenai Libia di London telah setuju mendirikan kelompok kontak yang melibatkan pemerintah negara-negara Arab untuk mengkoordinasikan bantuan untuk Libia pasca Gaddafi.
Prancis dan Amerika Serikat mengatakan mereka mengirimkan utusan ke kota penting yang dikuasai pemberontak, Benghazi di timur untuk menjadi penghubung dengan pemerintah sementara di sana.
Beberapa ribu orang tewas dan ribuan lagi terluka sejak pemberontak mengangkat senjata untuk melawan rezim Kolonel Muammar Gaddafi lebih dari enam pekan lalu.





























