Bom tewaskan komandan polisi Kandahar

Anggota kepolisian Afghanistan kerap menjadi sasaran serangan Taliban

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Anggota kepolisian Afghanistan kerap menjadi sasaran serangan Taliban

Komandan polisi Afghanistan di Provinsi Kandahar tewas dalam serangan bunuh diri terhadap markasnya.

Dua bawahan Khan Mohammad Mujahid terluka dalam ledakan, kata aparat setempat.

Seorang pelaku bom bunuh diri berhasil menembus lapisan pertahanan markas polisi dengan mengenakan seragam polisi, kantor kementerian dalam negeri Afghanistan.

Khan lolos dari dua percobaan pembunuhan sebelumnya. Markas polisi yang sama juga sudah pernah diserang.

''Si pembom bunuh diri memasang bahan peledak di badannya,'' kata wakil kepala polisi Shir Shar kepada kantor berita AFP.

''Dia meledakkan diri di pintu gerbang markas polisi Kandahar. Komandan polisi Khan Mohammad Mujahid telah menjadi syuhada, [dan] dua polisi terluka,'' tambahnya.

Juru bicara kelompok militan Taliban, Yusuf Ahmadi mengatakan salah seorang anggotanya melakukan serangan tersebut, dan memberikan rincian yang sedikit berbeda mengenai peristiwa tersebut.

''Dia menyamar sebagai polisi dan menembak mati si komandan polisi dengan pistolnya, memeluk dia dan kemudian meledakkan diri,'' ujarnya.

Markas polisi di Provinsi Kandahar sudah beberapa kali menjadi sasaran serangan di masa lalu, dan aparat terpaksa meninjau kembali pengamanan di sekitar kompleks tersebut belum lama ini, kata wartawan BBC Bilal Sarwary di Kabul.

Mendiang Khan Mohammad adalah mantan panglima mujahiddin yang memerangi pasukan pendudukan Uni Soviet pada tahun 1980-an dan kemudian Taliban.

Dia adalah panglima milisi berpengaruh yang tergabung dalam Persekutuan Utara yang dulu dipimpin Ahmad Shah Masoud.

Setelah Taliban tumbang, Khan bekerja untuk kementerian pertahanan Afghaistan.

Dia kemudian ditunjuk memimpin polisi di Balkh, kemudian Ghazni sebelum di provinsi tempat kelahirannya, Kandahar.

Dia diberi kenaikan pangkat ke jenjang letnan jenderal oleh Presiden Afghanistan Hamid Karzai.