Pendemo kuasai kota Homs Suriah

Sumber gambar, AFP
Ribuan pendemo anti-pemerintah menguasai Homs, kota terbesar ketiga di Suriah, dan bersikeras tidak akan meninggalkan kota itu sampai melengserkan presiden.
Sebelumnya, pemakaman dilakukan terhadap sejumlah korban tewas dalam kekerasan hari Minggu.
Delapan orang tewas di Homs, pada hari Minggu setelah tentara menembaki kerumunan massa.
Oposisi mengatakan pihaknya akan terus menguasai pusat kota hingga tuntutan politik mereka dipenuhi.
Ini termasuk tuntutan pencabutan undang-undang darurat dan melepaskan para tahanan politik.
Sejumlah pos didirikan di sekeliling lapangan untuk meyakinkan kalau yang datang adalah sipil tak bersenjata.
Seorang pendukung oposisi yang mengatakan kalau kakak lelakinya ditembak mati saat demo Senin kemarin menceritakan kalau banyak sukarelawan yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pendemo.
Lainyya, Najati Tayyara, kepada kantor berita AFP mengatakan ''lebih dari 20.000 orang ambil bagian untuk menduduki Lapangan Al-Saa dan kami menamainya sekarang sebagai Lapangan tahrir seperti yang di Kairo.''
"Pendudukan ini akan kami lanjutkan hingga tuntutan kami dipenuhi.''
Lembaga hak asasi manusia melaporkan kalau pasukan keamanan Presiden Bashar al-Assad menembaki para pendemo setelah sebelumnya memerintahkan pendemo untuk meninggalkan lapangan, setidaknya satu orang cidera.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda aksi demo akan berkurang meski Presiden Assad menjanjikan adanya reformasi.
Sementara itu kantor berita Suriah melaporkan dalam aksi di Homs juga memakan korban dari militer.
Seorang brigadir jenderal bersama dua anak lelaki dan keponakannya dilaporkan diculik dan dibunuh oleh ''kelompok kriminal bersenjata'' yang kemudian memutilasi korban.
Dalam sebuah pernyataan Kementerian Dalam Negeri mengatakan ''kerusuhan saat ini telah ditungganggi oleh kelompok pemberontak bersenjata Salafist, terutama di Homs dan Banias.''
Di Banias, aksi anti pemerintah juga berlangsung sejak Minggu lalu.





























