Tapol Birma lakukan aksi mogok makan

Tahanan di Birma dibebaskan
Keterangan gambar, Pegiat hak asasi manusia mengritik pembebasan tahanan karena tidak menyertakan tapol

Sekelompok tahanan politik di Birma melakukan aksi mogok makan untuk menuntut perbaikan kondisi dalam penjara.

Seorang pengacara Birma mengatakan kepada BBC bahwa 22 tahanan itu mulai mogok makan Sabtu 21 Mei di penjara Insein, Rangoon.

Para tahanan politik itu mengatakan memerlukan tambahan makanan, baju, dan selimut.

Pihak berwenang telah mengambil tindakan seperti mengurung mereka di sel masing-masing dan mengancam akan memindahkan dari Rangoon.

Mereka juga tidak diizinkan dikunjungi seperti tahanan lainnya.

Sementara itu utusan khusus PBB, Tomas Ojea Quintana, di Bangkok mengatakan pemerintah Birma tidak banyak bertindak terhadap pelanggaran yang meluas termasuk kerja paksa dan pembunuhan di luar hukum.

Menurut Quintana yang tidak diizinkan masuk Birma, kekerasan masih berlangsung di Birma timur dan etnik minoritas menjadi korban penyitaan tanah, kerja paksa, serta kekerasan seksual."

Di negara bagian Kayah, katanya, pria dan wanita mengungsi karena tidak ingin mengikuti program wajib militer.

Pemerintah Birma pekan lalu membebaskan 14.000 tahanan dari sejumlah penjara di negara itu berdasarkan program amnesti.

Namun Quintana dan pegiat hak asasi mengritik pembebasan tersebut karena sebagian tahanan politik masih dalam tahanan.