Reaktor Fukushima rentan terjangan badai

PLTN Fukushima

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Standard keamanan PLTN Fukushima disoroti setelah gempa dan tsunami Maret 2011

PLTN Fukushima yang lumpuh akibat gempa dan tsunami tidak siap menghadapi topan dan hujan lebat yang akan menimpa Jepang, kata operator.

Tokyo Electric Power (Tepco), yang mengelola PLTN tersebut, mengatakan sebagian bangunan reaktor di Fukushima belum tertutup, sehingga ada kekhawatiran bahwa badai mungkin akan membawa bahan radioaktif ke udara dan laut.

Seorang pejabat Tepco hari Sabtu (28/5) mengatakan, ''Kami telah melakukan upaya maksimum, tapi kami belum rampung menutupi bangunan reaktor yang rusak.''

Topan Songda diperkirakan akan menerjang willayah daratan utama Jepang paling cepat hari Senin (30/5).

PLTN Fukushima mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami 11 Maret 2011.

Meminta maaf

Tepco dikritik di dalam dan luar negeri akibat cara penanggulangan krisis nuklir

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Tepco dikritik di dalam dan luar negeri akibat cara penanggulangan krisis nuklir

Tim petugas Tepco telah menyebarkan beberapa jenis bahan seperti resin sintetis yang bisa mencegah partikel radioaktif menyebar di sekeliling bangunan reaktor nomor satu dan empat yang rusak.

Namun, sebagian bangunan masih belum tertutup setelah mengalami kerusakan akibat ledakan hidrogen tidak lama setelah gempa dan tsunami menerjang.

Seorang penasihat khusus Perdana Menteri Jepang Naoto Kan, Goshi Hosono mengecam Tepco. Menurut dia, langkah pengamanan yang ada saat ini ''tidak bisa dikatakan layak''.

Salah seorang pejabat Tepco telah meminta maaf atas masih kurangnya tindakan yang signifikan untuk mengantisipasi angin dan hujan.

Topan Songda yang memilki kecepatan angin maksimum 216 km/jam bergerak ke arah timur laut dan bisa menerjang Jepang hari Senin, kata Badan Meteorologi Jepang.

Tidak jelas apakah Fukushima mungkin berada tepat di jalur badai Songda.

Tepco dan pemerintah Jepang menjadi sasaran kritik di dalam dan luar negeri atas cara mereka menanggulangi krisis Fukushima.