Menkeu Perancis kampanye posisi IMF

Sumber gambar, Reuters
Menteri Keuangan Perancis akan mengunjungi Cina, India dan Brazil untuk mendapatkan dukungan dari negara tersebut atas pencalonan dirinya menjadi direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF).
Christine Lagarde dipandang sebagai calon favorit untuk menggantikan Dominique Strauss-Kahn yang mengundurkan diri pekan lalu untuk menghadapi dakwaan pelecehan seks di New York.
Lagarde mengatakan akan mengunjungi ketiga negara tersebut untuk meredakan kegundahan dari dunia ekonomi berkembang yang tidak setuju atas kepimpinan Eropa yang bekepanjangan di IMF.
Seluruh 10 direktur pelaksana IMF selama ini dipegang oleh warga negara Eropa sejak badan moneter itu berdiri.
Pemimpin negara berkembang telah mengungkapkan ketidakpuasan mereka atas sistim pemilihan direktur IMF.
Perdana Menteri India, Dr Manmohan Singh dilaporkan mengatakan "Kami ingin mengingatkan kepada negara-negara industrialis bahwa ada semacam kesepakatan tidak resmi di antara lembaga-lembaga keuangan internasional yang memberikan posisi puncaknya ke negara tertentu sebagai hak mereka."
Komentar Singh dilansir oleh Kementrian Luar Negeri India.
'Perjalanan Panjang'
Neraca kekuatan keuangan dunia telah berubah secara drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Perekonomian Asia seperti, Cina, India dan Indonesia telah melaju lebih pesat dibanding negara-negara maju, menjadikan negara-negara ini pemain penting di panggung dunia.
Namun, pengaruh negara-negara berkembang di badan keuangan internasional cenderung tidak berubah.
Perdana Menteri India mengatakan, akan diperlukan waktu yang lama untuk merupah paradigma ini.
"Anda tentu mengakui bahwa mereka yang punya kekuasaan tidak akan melepaskan kekuasaan mereka, maka dari itu perjuangan untuk mendapatkan tatanan dunia yang lebih baik, adil dan berimbang termasuk dalam manajemen institusi global seperti IMF, Bank Dunia, dan Dewan Keamanan (PBB)...akan memerlukan perjalanan panjang," Singh mengatakan.
Pendapat ini didukung oleh Professor Charles Adams dari Sekolah Kebijakan Publik, Lee Kuan Yew di Singapore yang mengatakan walaupun IMF telah bergerak di jalan yang benar, namun masih cenderung lambat.
"Kita telah melihat perubahan di IMF yang menjauh dari Eropa dan ekonomi negara maju ke pasar ekonomi berkembang, namun hal ini berjalan lambat," ujar Adams.





























