Jerman akui pemberontak Libia

Pemberontak Libia mengangkat senjata untuk memaksa Muammar Gaddafi lengser

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Pemberontak Libia mengangkat senjata untuk memaksa Muammar Gaddafi lengser

Pemerintah Jerman telah mengakui pemberontak Libia sebagai "wakil sah bangsa Libia".

''Kami menginginkan Libia yang bebas, damai dan demokratis tanpa [Muammar] Gaddafi," kata kata Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle, di kota Benghazi yang dikuasai pemberontak.

Beberapa negara telah mengakui Dewan Peralihan Nasional (NTC).

Jerman menjadi sasaran kritik beberapa pihak, termasuk politisi oposisi di dalam negeri, karena negara itu menolak mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberikan mandat kepada Nato untuk melindungi warga sipil Libia.

NTC muncul dari kekuatan-kekuatan yang memulai pemberontakan terhadap rezim Gaddafi pada 16 Februari.

Setelah beberapa bulan pertempuran berdarah, pemberontak kini menguasai beberapa wilayah di belahan timur Libia, termasuk Benghazi.

Tujuan sama

Kolonel Muammar Gaddafi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kolonel Gaddafi (kanan) digambarkan bermain catur dengan tenang menghadapi tamunya hari Minggu

Ketika berbicara hari Senin (13/6) didampingi menteri luar negeri kubu pemberontak Ali Issawi, Westerwelle menghatakan, "Kami memiliki tujuan yang sama: Libia tanpa Gaddafi.''

Seorang tokoh senior di kubu pemberontak, wakil ketua NTC Abdel Hafez Ghoga, menyambut keputusan Jerman itu sebagai ''langkah sangat besar''.

Sementara itu, televisi pemerintah Libia hari Minggu (12/6) memperlihatkan rekaman pemimpin Libia, Kolonel Muammar Gaddafi, bermain catur dengan ketua federasi catur dunia (WCF), Kirsan Ilyumzhinov.

Kalangan wartawan mengatakan adegan tersebut bisa dipandang sebagai indikasi bahwa Gaddafi tidak berniat untuk turun.

Pemberontak menuntut Muammar Gaddafi lengser dari kursi kekuasaan. Demikian juga beberapa negara Barat, termasuk Amerika Serikat, yang mendukung kubu pemberontak.