Mesir perintahkan penyelidikan

Sumber gambar, none
Pejabat Mesir memerintahkan penyelidikan atas bentrokan hari Selasa malam (28/06) antara polisi dan pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir Kairo yang melukai ratusan orang.
Polisi anti huru hara menggunakan gas air mata untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa yang melempari polisi dengan batu dan bom api.
Ini adalah kerusuhan paling parah di Mesir dalam beberapa minggu.
Para pegiat meminta penerapan segera reformasi yang dituntut revolusi yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak bulan Februari.
Mereka juga meminta para pejabat senior diadili terkait meninggalnya 850 pengunjuk rasa saat itu, termasuk Mubarak sendiri.
Tangan besi
Hari Rabu, setelah pertempuran terjadi semalaman, Jaksa Agung Mesir Abdel Meguid Mahmoud memerintahkan pembentukan dewan penyelidik bentrokan di Lapangan Tahrir, pusat gerakan unjuk rasa Mesir.
Pernyataan dikeluarkan beberapa jam setelah menteri dalam negeri memerintahkan polisi meninggalkan lapangan untuk menghindari kekerasan terjadi lagi.
"Kejadian yang disesalkan di Lapangan Tahrir...dilakukan untuk merusak kestabilan negara dan membenturkan kelompok revolusi dengan polisi," kata Dewan Agung Angkatan Bersenjata, dewan militer yang berkuasa di Mesir.
Tetapi sejumlah demonstran tetap berada di lapangan, kata wartawan BBC Jeannie Assad dari Kairo.
"Mereka masih menggunakan tangan besi," kata seorang pengunjuk rasa sambil menambahkan taktik polisi tidak berubah sejak revolusi.
Tidak jelas
Sebagian besar orang tidak mengetahui bagaimana unjuk rasa dimulai.
Para saksi mata mengatakan mereka mulai beraksi di departemen dalam negeri dimana keluarga yang berduka sedang berunjuk rasa menentang lambannya proses hukum terhadap pejabat keamanan yang dituduh bertanggung jawab atas kematian ratusan pengunjuk rasa.
Kekerasan kemudian menyebar ke Lapangan Tahrir sementara orang-orang lain bergabung dan melempari keamanan dengan batu, kata mereka.
Meskipun demikian, pihak lain menyatakan konflik terjadi ketika sekelompok "penjahat" menyerang kerumunan orang di teater Kairo yang sedang memperingati korban tewas sejak kerusuhan permulaan tahun ini.
"Mereka bukannya revolusioner, mereka tidak mengenal revolusi, politik atau hal-hal lain. Mereka disana untuk menghancurkan, itu saja," kata salah satu orang yang berada di tempat kejadian.
"Mesir sekarang terpecah belah. Mengapa?" kata seorang saksi mata yang marah. "Karena (pengunjuk rasa) memicu kebakaran."





























