Protes Mesir desak pimpinan militer mundur

Demonstrasi di Kairo

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Demonstrasi di Lapangan Tahrir Kairo merupakan yang terbesar sejak Mubarak turun.

Ribuan orang di Mesir kembali melakukan demonstrasi di ibukota Kairo pada Selasa (12/7) menuntut pergantian dewan militer yang sekarang berkuasa. Selain di Kairo, protes juga terjadi di Alexandria dan Suez.

Seperti diberitakan Reuters, protes tersebut serupa dengan demonstrasi yang dilakukan oleh para aktivis ketika menurunkan Presiden Hosni Mubarak dari jabatannya pada Februari lalu.

"Kami ingin pimpinan militer turun," teriak para demonstran ketika mereka berjalan dari Lapangan Tahrir ke Kantor Perdana Menteri, dan kemudian kembali lagi ke lapangan.

Mereka mendesak agar Mohammed Hussein Tantawi, pemimpin dewan, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan selama dua dekade ketika Mubarak berkuasa.

Protes terjadi sejak Jumat lalu merupakan yang terbesar sejak Mubarak mundur sebagai presiden.

Sebelumnya, berbagai demonstrasi dilakukan untuk menuntut penyelesaian masalah kemiskinan, kenaikan harga dan pengangguran.

Masalah lapangan kerja dan kenaikan harga menjadi masalah menyusul krisis ekonomi Mesir diperkirakan akan lebih parah.

Indeks harga saham di Mesir yang turun 3 % dan selama delapan minggu ini berada di posisi rendah.

Para pemrotes marah karena kaki tangan Mubarak ingin terus berkuasa dan para pejabat terlibat kasus hukum dan pembunuhan demonstran.

Peringatan militer

Militer mengatakan demonstrasi akan mengancam tuntutan reformasi yang diminta masyarakat dan keamanan negara.

"Pasukan keamanan merasa ini merupakan tanggung jawab sejarah dan demi negara serta meminta masyarakat untuk melawan aksi protes yang akan mengancam kehidupan sehari-hari," seperti disampaikan oleh Jenderak Mohsen Fangary, salah satu anggota dewan militer.

Sebelumnya, militer telah menjanjikan untuk menggelar pemilu pada September nanti.

Mantan Sekretaris Liga Arab, Jenderal Amr Moussa yang merupakan salah satu yang difavoritkan sebagai presiden, mengatakan demonstrasi itu memiliki legitimasi.

Pernyataan militer itu mendapatkan banyak perlawanan.

"Dewan militer menjalankan kebijakan yang sama dengan rejim yang lama," kata Mohamed Abdel Waged, 43 tahun, salah seorang pemrotes yang menginap di Lapangan Tahrir.

Militer mengatakan akan melakukan tindakan yang legal kepada para demonstran.

"Seluruh pendapat dan tuntutan masyarakat menjadi pertimbangan kami, keterangan ini untuk menjelaskan visi kami," kata Jenderal Mahmoud Hegazy, salah seorang anggota dewan militer.

Tetapi dia mengatakan tidak ada skenario untuk menggunakan kekerasan melawan para demonstran.