PM Malaysia bertemu Paus Benediktus

PM Najib Razak menghadiahkan bukunya dan sebuah lukisan kepada Paus Benediktus

Sumber gambar, REUTERS Osservatore Romano

Keterangan gambar, Malaysia selama ini belum memiliki hubungan diplomatik dengan Vatikan

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang sedang berada di Italia telah bertemu dengan kepala Gereja Katolik Roma, Paus Benediktus.

Para pejabat Malaysia dan Vatikan sudah mengadakan pembicaraan selama bertahun-tahun untuk membuka hubungan diplomatik antara kedua negara.

Usai pertemuan, pejabat kedua belah pihak tidak memberikan rincian pembicaraan. PM Najib adalah pemimpin Malaysia kedua yang pernah bertemu dengan Paus, setelah mantan PM Mahathir Mohamad tahun 2002.

Tetapi pilihan waktu kunjungan PM Najib saat ini diduga untuk menenangkan warga Kristen di negaranya menjelang pemilihan umum.

Ketegangan antar etnis dan agama akhir-akhir ini meningkat di Malaysia.

PM Najib tidak mengunjungi Paus di Vatikan, namun ke rumah peristirahatan Paus di luar kota Roma.

Kunjungan ini cukup penting bagi masyarakat Kristen Malaysia, yang jumlahnya sekitar 9% dari penduduk Malaysia.

Serangkaian pertikaian terkait agama dalam beberapa tahun memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat minoritas Malaysia bahwa hak-hak beragama mereka ditindas, kata wartawan BBC di Kuala Lupur, Jennifer Pak.

Berseteru soal Allah

Pada tahun 2009 pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata "Allah" oleh umat Kristen.

Bulan Maret lalu pemerintah menahan puluhan ribu kitab Injil impor berbahasa Indonesia, karena menggunakan kata "Allah".

Tindakan ini semakin membuat marah masyarakat Kristen.

Ketegangan semakin meningkat dan menyebabkan insiden pembakaran sejumlah gereja dan tindakan balasan lain terhadap masjid, seperti meletakkan kepala babi di depan pintu masjid.

Ramon Navaratnam, yang bekerja untuk dewan lintas agama Malaysia mengatakan, pembentukan hubungan diplomatik dengan Vatikan akan memberi perhatian yang lebih besar terhadap masalah yang dihadapi masyarakat minoritas Kristen.

"Kami sekarang akan bisa mengatakan berbagai hal seperti yang sudah kami lakukan, apa yang benar dan apa yang salah. Apa yang kami sukai dan tidak kami sukai mengenai kebebasan beragama atau tidak adanya kebebasan itu. Bedanya, kami nanti akan memiliki seseorang di Vatikan yang paling tidak akan berbicara kepada mereka [pemerintah] secara tertutup dan mengatakan bahwa 'itu tidak bisa diterima. Tolonglah bersikap lebih moderat'," kata Navaratnam.

Dia menambahkan, jika Vatikan memiliki utusan resmi di Malaysia pemerintah Malaysia tidak akan bisa lagi mengabaikan kelompok minoritas yang berasal dari etnis Cina dan India.

Minoritas kecewa

Akan tetapi sejumlah kelompok ekstremis Melayu semakin lantang menuntut hak-hak istimewa dan dukungan dari pemerintah.

Dalam pemilu tahun 2008 kelompok minoritas Cina dan India di Malaysia banyak yang meninggalkan pemerintah koalisi pimpinan UMNO dan memberi suara mereka untuk kalangan oposisi.

Banyak dari mereka yang mengeluhkan rasisme dan tidak adanya kebebasan beragama.

Malaysia adalah satu diantara 16 negara di dunia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Tahta Suci Vatikan karena adanya penentangan di kalangan Muslim konservatif.

Negara-negara lainnya adalah Afghanistan, Bhutan, Brunei, Burma, Komoro, Laos, Maladewa, Mauritania, Korea Utara, Oman, Arab Saudi, Somalia, Tuvalu, Vietnam dan Republik Rakyat Cina.

Banyak negara mayoritas Muslim lain sudah puluhan tahun memiliki hubungan diplomatik, termasuk Indonesia yang sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Vatikan sejak tahun 1947.