Senat Amerika mendukung plafon utang

Senat AS

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Seperti yang sudah diduga, Senat AS meloloskan RUU tentang plafon utang.

Senat Amerika Serikat sudah meloloskan kesepakatan antara Partai Republik, Demokrat, dan Presiden Barack Obama untuk menaikkan plafon utang dan mencegah gagal bayar.

RUU itu akan menaikkan plafon hutang sebesar US$2,4 triliun dari batas saat ini US$14,2 triliun dengan penghematan sedikitnya US$2,1 triliun dalam waktu sepuluh tahun.

Kesepakatan ini dicapai setelah perdebatan sengit selama beberapa bulan antara Gedung Putih dengan anggota DPR dari kedua partai.

Tanpa kesepakatan peningkatan plafon utang itu maka Amerika Serikat tidak akan bisa memenuhi kewajiban membayar hutangnya namun kesepakatan bisa dicapai hanya sekitar 12 jam sebelum batas waktu.

Para ekonom mengatakan jika Senat tidak meloloskan RUU, maka dampaknya akan terasa di pasar keuangan dunia.

Perdebatan penting

Presiden Barack Obama menyambut hasil pemungutan suara dan menyebutnya sebagai langkah penting pertama untuk memastikan belanja Amerika sesuai dengan kemampuan.

"Ini merupakan debat panjang dan sengit dan saya ingin menyampaikan terima kasih kepada rakyat Amerika karena terus memberikan tekanan kepada para pejabat terpilih untuk mengesampingkan politik dan bekerja bersama demi kepentingan bangsa," kata Obama.

Sebelum pemungutan suara, pemimpin Partai Demokrat di Senat, Mitch McConnell, memuji arah perjalanan dari perdebatan RUU tersebut dengan mengatakan Kongres AS terlibat dalam perdebatan penting selama beberapa pekan.

"Tarik-dorong yang disaksikan oleh orang di Washington pekan ini bukanlah kemacetan, namun kemauan orang untuk menyelesaikannya," kata McConnel.

"Bersama-sama kita memiliki cara baru melakukan bisnis di Washington."

Sementara itu pimpinan Senat lainnya, Harry Reid, mengingatkan bahwa walaupun kesepekatan utang itu bukan sesuatu yang sempurna, Amerika Serikat membutuhkannya untuk mencegah bencana keuangan.

RUU ini sudah disahkan oleh DPR secara mayoritas pada Senin (01/08) malam.

Ketika mengumumkan kesepakatan dengan DPR waktu itu, Presiden Obama mengatakan bahwa isi RUU itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang dia inginkan namun merupakan 'uang muka yag serius bagi defisit Amerika Serikat.