Jepang segera pilih perdana menteri baru

Sumber gambar, Reuters
Partai Demokrat yang berkuasa di Jepang dijadwalkan akan segera melakukan pemungutan suara untuk memilih perdana menteri keenam dalam waktu lima tahun terakhir.
Sebanyak 398 anggota parlemen dari partai berkuasa akan memberikan suaranya dan kandidat yang meraih suara terbanyak hampir dipastikan akan langsung menjadi perdana menteri setelah Diet atau parlemen memberikan persetujuan.
Saat ini Menteri Perdagangan, Banri Kaieda, yang dianggap menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Naoto Kan yang mundur setelah hanya 14 bulan menjabat.
Padahal Jepang sangat membutuhkan pemimpin yang kuat untuk program pembanunan kembali maupun dalam menumbuhkan kembali ekonomi yang macet.
Naoto Kan mundur setelah dianggap gagal menunjukkan kepemimpinan dalam pasca bencana gempa dan tsunami serta krisis nuklir negeri itu.
Padahal Jepang sangat membutuhkan pemimpin yang kuat untuk program pembanunan kembali maupun dalam menumbuhkan kembali ekonomi yang macet.
Akibat tekanan politik yang kuat, pada bulan Juni Naoto sudah berjanji akan mengundurkan diri dari jabatan perdana dengan syarat parlemen mensahkan tiga RUU -antara lain tentang energi terbarukan- yang akhirnya disahkan pada Jumat 26 Agustus.
Dua putaran
Dalam pemungutan suara putaran pertama, tak satupun dari lima kandidat yang meraih cukup suara. Dan dalam putaran kedua Kaieda bersaing dengan Menteri Keuangan, Yoshihiko Noda.
Di putaran pertama, Kaieda memperoleh 143 suara sedangkan Noda meraup 102 suara.
Para pendukung mantan Menlu Seiji Maehara -yang menempati tempat ketiga dengan 74 suara- diduga akan mengalihkan dukungan untuk Noda.
Perebutan kursi perdana menteri ini melebar menjadi pertarungan antar faksi yang pro dan kontra atas politisi senior Ichiro Ozawa.
Ozawa diyakini 'memegang' 130 anggota parlemen, meski saat ini tengah menanti sidang terkait penyelewengan donasi politik.
Ozawa sendiri telah menyatakan dukungannya untuk Kaieda.
Perdana menteri yang baru akan mengadapi tugas berat berupa upaya rekonstruksi terbesar di Jepang sejak Perang Dunia II dan memecahkan krisis di reaktor Fukushima, yang sampai saat ini masih membocorkan radiasi.
Selain itu masih diperlukan lagi upaya untuk meyakinkan pasar dalam upaya menumbuhkan kembali perekonomian Jepang.





























