Ribuan orang mengungsi dari Sirte, Libia

Warga Sirte

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Palang Merah Internasional menyebutkan sekitar 10.000 orang telah mengungsi dari Sirte

Ribuan warga Libia menggunakan peluang gencatan senjata sementara untuk melarikan diri dari Site, salah satu basis pendukung kolonel Gaddafi yang tersisa.

Penduduk dengan menggunakan kendaraan mengangkut harta benda mereka dan antri di pos pemeriksaan di luar kota.

Pasukan transisi nasional mengatakan mereka mematuhi gencatan senjata sementara agar warga sipil bisa keluar sebelum mereka melakukan serangan besar terakhir.

Sementara itu tim palang merah internasional yang sudah masuk Sirte mengatakan masyarakat setempat sangat memerlukan bantuan medis.

Sirte adalah satu dari dua kota besar yang masih melakukan perlawanan atas pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC).

Sampai saat ini, keberadaan kolonel Gaddafi masin belum diketahui.

"Sebelumnya, kami tidak dapat meninggalkan rumah kami karena masih terjadi pemboman. Karena itu kami harus angkat kaki sekarang," kantor berita Associated Press mengutip Ahmed Hussein, yang mengungsi dari Sirte bersama istrinya, mertua dan dua anak.

Pria lain, Ali mengatakan ia dan keluarganya juga harus mengungsi karena "kami terperangkap antara pemboman NATO dan kelompok perlawanan."

"NATO, khususnya, membom secara random dan sering menghantam gedung yang dipakai warga sipil," kata Ali kepada kantor berita AFP.

Palang Merah Internasional, ICRC yang bermarkas di Jenewa mengatakan hampir 10.000 orang telah meninggalkan Sirte, dan sepertiga diantaranya mendirikan kam di padang pasir, beberapa kilometer dari kota itu.

Rumah sakit dibom

ICRC mengatakan di Sirte sendiri, ada sejumlah orang yang sekarat di rumah sakit karena tidak adanya oksigen dan bahan bakar.

Tim ICRC mendapatkan ijin dari kedua belah pihak untuk melintas pos pemeriksaan dan mengunjungi rumah sakit Ibn Sima hari Sabtu (01/10).

"Rumah sakit ini kebanjiran pasien, sementara pasok medis habis. Selain itu juga, tempat penampungan air juga rusak," kata ICRC dalam satu pernyataan.

Tim ini dapat melintas garis tempur untuk menyalurkan peralatan medis.

"Apa yang telah kami kirim adalah peralatan untuk mengobati luka. Peralatan seperti ini dapat merawat sekitar 200 pasien luka akibat perang," kata juru bicara ICRC Soaade Messoudi kepada BBC.

Namun tim palang merah ini tidak dapat mengunjungi pasien di bangsal-bangsal karena rumah sakit juga menjadi sasaran pemboman.

"Beberapa roket menghantam rumah sakit saat kami di sana," kata ketua tim ICRC, Hichem Khadhraoui kepada AFP.

"Kami menyaksikan sendiri pemboman membabi buta. Saya tidak tahu siapa yang meluncurkan pemboman itu," kata Khadhraoui.